Sedikit tazkirah serta perkongsian ilmu antara aku & semua umat manusia sama ada Islam atau tak. Di akhirat nanti ada 4 golongan lelaki yg akan ditarik masuk ke neraka oleh wanita. Lelaki itu adalah mereka yang tidak memberikan hak kepada wanita dan tidak menjaga amanah itu. Mereka ialah:
1. Ayahnya
Apabila seseorang yg bergelar ayah tidak mempedulikan anak2 perempuannya didunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar solat,mengaji dan sebagainya Dia membiarkan anak2 perempuannya tidak menutup aurat. Tidak cukup kalau dgn hanya memberi kemewahan dunia sahaja. Maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya.
2. Suaminya
Apabila sang suami tidak mempedulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul! bebas di pejabat, memperhiaskan diri bukan utk suami tapi utk pandangan kaum lelaki yg bukan mahram. Apabila suami mendiam diri walaupun seorang yg alim dimana solatnya tidak pernah bertangguh, saumnya tidak tinggal, maka dia akan turut ditarik oleh isterinya bersama-sama ke dlm neraka.
3. Abang-abangnya
Apabila ayahnya sudah tiada,tanggungjawab menjaga maruah wanita jatuh ke bahu abang-abangnya dan saudara lelakinya. Jikalau mereka hanya mementingkan keluarganya sahaja dan adiknya dibiar melencong dari ajaran Islam,tunggulah tarikan adiknya di akhirat kelak.
4. Anak-anak lelakinya
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yg haram disisi Islam. bila ibu membuat kemungkaran mengumpat, memfitnah, mengata dan sebagainya...maka anak itu akan disoal dan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak dan nantikan tarikan ibunya ke neraka.
Bila terbaca artikel ni, rasa seram timbul apatah lagi aku ni seorang kaum Adam. Moga Allah pelihara kita semua.
Showing posts with label tazkirah. Show all posts
Showing posts with label tazkirah. Show all posts
Sunday, October 2, 2011
Friday, September 30, 2011
Memahami Hukum Hudud
Allah subhanahu wa ta’ala al-Hakiem (yang maha bijaksana) senantiasa menjaga hak-hak manusia dan menjaga kehidupan mereka dari kezholiman dan kerusakan. Syariat islam pun ditetapkan untuk menjaga dan memelihara agama, jiwa, keturunan, akal dan harta yang merupakan adh-Dharuriyat al-Khamsu (lima perkara mendesak pada kehidupan manusia). Sehingga setiap orang yang melanggar salah satu masalah ini harus mendapatkan hukuman yang ditetapkan Syari’at yang disesuaikan dengan pelanggaran tersebut.
Salah satunya adalah penegakan hudud yang menjadi satu keistimewaan ajaran islam dan merupakan bentuk kesempurnaan rahmat dan kemurahan Allah subhanahu wa ta’ala kepada makhluknya.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan:
“Hudud berasal dari rahmat untuk makhluk dan kebaikan mereka. Oleh karena itu, sudah sepatutnya orang yang menghukum manusia Karena dosa-dosa mereka bertujuan dalam melakukannya untuk kebaikan dan rahmat kepada mereka, sebagaimana tujuan orang tua membina anak-anaknya dan dokter dalam mengobati orang yang sakit.” (1)
PENGERTIAN HUDUD
Hudud adalah kosa kata dalam bahasa Arab yang merupakan bentuk jama’ (plurals) dari kata had yang asal artinya pembatas antara dua benda. Sehingga dinamakan had karena mencegah bersatunya sesuatu dengan yang lainnya. (2) Ada juga yang menyatakan bahwa kata had berarti al-man’u (pencegah), sehingga dikatakan Hudud Allah adalah perkara-perkara yang Allah larang melakukan dan melanggarnya (3).
Adapun menurut syar’i, istilah hudud adalah hukuman-hukuman kejahatan yang telah ditetapkan oleh syara’ untuk mencegah dari terjerumusnya seseorang kepada kejahatan yang sama dan menghapus dosa pelakunya. (4)
DELIK HUKUMAN KEJAHATAN (Jarimah al-Hudud)
Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya sudah menetapkan hukuman-hukuman tertentu bagi sejumlah tindak kejahatan tertentu yang disebut jaraimu al-hudud (delik hukuman kejahatan).
Yaitu meliputi kasus; perzinahan, tuduhan berzina tanpa bukti yang akurat, pencurian, mabuk-mabukan, muharabah
(pemberontakan dalam negara Islam dan pengacau keamanan), murtad, dan perbuatan melampui batas lainnya. (5)
Dengan demikian Hudud mencakup 7 jenis:
1. Had zina (hukuman Zina) ditegakkan untuk menjaga keturunan dan nasab.
2. Had al-Qadzf (hukuman orang yang menuduh berzina tanpa bukti) untuk menjaga kehormatan dan harga diri
3. Had al-Khamr (Hukuman orang yang minum Kamer (minuman memabukkan) untuk menjaga akal
4. Had as-Sariqah (Hukuman mencuri) untuk menjaga harta
5. Had al-Hiraabah (hukuman para perampok) untuk menjaga jiwa, harta dan harga diri kehormatan.
6. Had al-Baghi (Hukuman pembangkang) untuk menjaga agama dan jiwa
7. Had ar-Riddah (hukuman orang murtad) untuk menjaga agama. (6)
HIKMAH PENSYARIATAN HUDUD
Hudud disyaria’tkan untuk kemaslahan hamba dan memiliki tujuan yang mulia. Diantaranya adalah:
a. Siksaan bagi orang yang berbuat kejahatan dan membuatnya jera. Apabila ia merasakan sakitnya hukuman ini dan akibat buruk yang muncul darinya maka ia akan jera untuk mengulanginya kembali dan dapat mendorongnya untuk istiqamah dan selalu taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Maidah/5:38)
b. Membuat jera manusia dan mencegah mereka terjerumus dalam kemaksiatan, oleh karena itu Allah memerintahkan untuk mengumumkan had dan menerapkannya dihadapan manusia.
“Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (Qs. an-Nur/24:2)
Syeikh ibnu Utsaimin t menyatakan bahwa diantara hikmah dari hudud adalah membuat jera pelaku untuk tidak mengulangi dan orang lain agar tidak terjerumus padanya dan pensucian dan penghapusan dosa. (7)
c. Hudud adalah penghapus dosa dan pensuci jiwa pelaku kejahatan tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu, ia bertutur:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلَا تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ فَبَايَعْنَاهُ عَلَى ذَلِك
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dan disekeliling beliau ada sekelompok sahabatnya, “Berjanji setialah kamu kepadaku, untuk tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak membunuh anak-anak kamu dan tidak berbuat dusta sama sekali serta tidak bermaksiat dalam hal yang ma’ruf. Siapa di antara kamu yang menepati janjinya, niscaya Allah akan memberikannya pahala. Tetapi siapa saja yang melanggar sesuatu darinya, lalu diberi hukuman didunia maka hukuman itu adalah sebagai kafarah (penghapus dosanya), dan barangsiapa yang melanggar sesuatu darinya lalu ditutupi olah Allah kesalahannya (tidak dihukum), maka terserah kepada Allah; Kalau Dia menghendaki diampuni-Nya kesalahan orang itu dan kalau Dia menghendaki disiksa-Nya.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari I/ 64 no: 18, Muslim 3/1333 no: 1709 dan Nasa’i 7/148)
d. Menciptakan suasana aman dalam masyarakat dan menjaganya.
e. Menolak keburukan, dosa dan penyakit dari masyarakat, karena kemaksiatan apabila telah merata dan menyebar pada masyarakat maka akan diganti Allah dengan kerusakan dan musibah serta dihapusnya kenikmatan dan ketenangan. Untuk menjaga hal ini maka solusi terbaiknya adalah menegakkan dan menerapkan hudud. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs. ar-Rûm/30:41)
Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَحَدٌّ يُقَامُ فِيْ الأَرْضِ أَحَبُّ إِلَى أَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوْا ثَلاَثِيْنَ صَبَاحًا
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu hukuman kejahatan yang ditegakkan di muka bumi lebih penduduknya daripada mereka diguyurhujan selama empat puluh hari.” (Hasan ; Shahih Ibnu Majah no; 2057, Ibnu Majah 2/848 no : 2538, Nasa’I 8/76). (8)
SYARAT PENERAPAN AL-HUDUD (9)
Penerapan al-Hudud tidak dilakukan tanpa 4 syarat:
1. Pelaku kejahatan adalah seorang mukallaf yaitu baligh dan berakal.
2. Pelaku kejahatan tidak terpaksa dan dipaksa.
3. Pelaku kejahatan mengetahui pelarangannya.
4. Kejahatannya terbukti ia yang melakukannya tanpa ada syubhat. Hal ini bisa dibuktikan dengan pengakuannya sendiri atau dengan bukti persaksian orang lain.
HUKUM MENEGAKKAN HUKUMAN HAD
Diwajibkan kepada wali umur (penguasa) untuk menegakkan dan menerapkan hukuman Had kepada seluruh rakyatnya berdasarkan dalil dari al-Qur`aan, as-Sunnah dan Ijma’ serta dituntut qiyas yang shahih. (10)
Dalil al-Qur`aan diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Maidah/5:38)
Dalil as-Sunnah diantaranya adalah hadits Ubadah bin Shamit yang menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَقِيمُوا حُدُودَ اللَّهِ فِي الْقَرِيبِ وَالْبَعِيدِ وَلَا تَأْخُذْكُمْ فِي اللَّهِ لَوْمَةُ لَائِمٍ
“Tegakkanlah hukuman-hukuman (dari) Allah pada kerabat dan lainnya, dan janganlah kecamanan orang yang suka mencela mempengaruhi kamu dalam (menegakkan hukum-hukum) Allah.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah No. 2058 dan Ibnu Majah No. 2540)
Demikian juga ulama kaum muslimin sepakat atas hal ini.
TIDAK DIBENARKAN SYAFAAT (REKOMENDASI) PEMBEBASAN HUKUMAN, BILA SUDAH DIMEJA HIJAUKAN
Apabila perkaranya telah masuk ke pemerintah atau telah dimeja hijaukan maka dilarang adanya syafaat (rekomendasi) pembebasan atau pengurangan hukuman. Juga pemerintah tidak boleh menerima syafaat dalam hal ini. Hal ini dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang berbunyi:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa kaum Quraisy sangat memusingkan mereka ihwal seorang perempuan suku Makhzum yang telah melakukan kasus pencurian. Mereka mengatakan, “Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu mengemukakan permintaan supaya perempuan itu dibebaskan)?” Tidak ada yang berbicara hal itu, kecuali Usamah kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Beliau menjawab, “Adakah engkau hendak menolong supaya orang bebas dari hukuman Allah?” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri lalu berkhutbah, “Hai sekalian manusia, orang-orang sebelum kamu menjadi sesat hanyalah disebabkan apabila seorang bangsawan mencuri, mereka biarkan (tidak melaksanakan hukuman kepadanya. Demi Allah, kalaulah seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya Muhammad memotong tangannya.” (Muttafaqun ’alaih)(11)
Dalam hadits yang mulia ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari orang yang member syafaat dalam hukuman had setelah sampai ke pemerintah. Adapun bila belum sampai maka diperbolehkan.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah menuturkan:
Tidak boleh menggagalkan (hukuman had) dengan syafaat, hadiah dan yang lainnya dan tidak boleh memberikan syafaat padanya. Siapa yang menggagalkannya karena hal ini –padahal ia mampu menerapkannya- maka semoga laknat Allah, malaikat dan semua manusia menimpanya.(12)
PIHAK YANG BERWENANG MELAKSANAKAN HUDUD
Tak ada yang berwenang menegakkan hudud, kecuali imam, kepala negara, atau wakilnya (aparat pemerintah yang mendapat tugas darinya). Sebab, di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliaulah yang melaksanakannya, demikian pula para Khalifahnya sepeninggal Beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah juga mengutus Unais radhiallahu ‘anhu untuk melaksanakan hukum rajam, sebagaimana dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنْ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا
“Wahai Unais, berangkatlah menemui isteri orang itu, jika ia mengaku (berzina), maka rajamlah!” (HR al-Bukhaari no. 2147)
Demikian juga memerintahkan para sahabat untuk merajam Maa’iz, dengan menyatakan:
اذْهَبُوا بِهِ فَارْجُمُوهُ
“Bawalah ia dan rajamlah.” (HR al-Bukhaari no. 6815)
Demikian juga karena penentuan hukuman had dibutuhkan ijtihad dan tidak aman dari kezholiman, sehingga wajib dilaksanakan oleh imam atau wakilnya. (13)
LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN SAMA DALAM HUDUD?
Wanita dalam penerapan hukuman had sama seperti lelaki, karena pada asalnya semua yang ditetapkan syari’at untuk lelaki juga berlaku pada wanita sampai ada dalil yang mengkhususkannya. Hal ini umum berlaku dalam ibadah, mu’amal ataupun dalam hukuman. Namun para ulama memberikan 3 pengecualian, yaitu:
a. Wanita dihukum dengan duduk sedangkan lelaki dengan berdiri.
b. Pakaian wanita diikat sedangkan lelaki tidak.
c. Jangannya di tahan (diikat) hingga tidak terbuka auratnya, sedangkan lelaki tidak. (14)
Syeikh ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan: Inilah yang membedakan wanita dengan laki-laki dalam had karena kebutuhan menuntutnya. Kalau tidak maka pada asalnya wanita sama dengan lelaki.(15)
Demikianlah selintas permasalahan hudud dalam islam. Mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan kepada kaum muslimin tentang keindahan dan kelengkapan syari’at islam.
Wabillahitaufiq.
Referensi:
1. Asy-Syarhu al-Mumti’ ‘Ala Zad al-Mustaqni’, Syeikh Muhamad bin Shalih al-Utsaimin, cetakan pertama tahun 1428, Dar Ibnu al-Jauzi
2. Fat-hu Dzi al-Jalal wa al-Ikram, Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, cetakan pertama tahun 1428 H, al-Maktabah al-Islamiyah.
3. Al-Mulakhash al-Fiqh, Prof.DR. Sholeh bin Abdillah alfauzaan, cetakan pertama tahun 1423 H, Idârat al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta`
4. Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram, Syeikh Abdullah bin Abdurrahman al-Basâm, cetakan kelima tahun 1423 H, Maktabah al-Asadi.
5. Manhaj as-Salikin Wa Taudih al-Fiqhu Fiddin, Syeikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di, tahqiq Muhammad bin Abdulaziz al-Khudhairi, cetakan pertama tahun 1421 H, Dar al-Wathan
6. Dll.
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel: EkonomiSyariat.Com
Footnes:
(1) Al-Mulakhosh al-Fiq-hi 2/521 menukil dari Hasyiyah ar-Raudh al-Murbi’ 7/300.
(2) Lihat Al-Mulakhosh al-Fiqh 2/521 dan Syarhu al-Mumti’ 14/207
(3) Syarhu al-Mumti’ 14/206 dan lihat juga Fat-hu al-Jalaah 5/329 dan Mulakhos al-Fiqh 2/521.
(4) Fiq-hus Sunnah 2/302
(5) Lihat Manhaj as-Sâlikin, Syeikh as-Sa’di hal. 239-244
(6) Lihat Sarhu al-Mumti’ 14/206
(7) Lihat lebih lengkap lagi hikmah pensyariatan had ini dalam al-Mulakhosh al-Fiqh 2/521 dan Taudhih al-Ahkâm 6/210-211
(8) Lihat pembahasan ini dalam al-Mulakhosh al-Fiqh 2/522-523, dan Syarhu al-Mumti’ 14/207-213.
(9) Lihat Taudhih al-Ahkaam, Syeikh al-Basaam 6/210 dan Fat-hu Dzil Jalaal 5/330 serta Syar-hu al-Mumti’ 14/208
(10) Lihat Fathul Bari 12/87 No. 6788, Muslim 2/1315 no 1688, ‘Aunul Ma’bud 12/31 No: 4351, Nasa’I 7/74, Tirmidzi 2/442 no: 1455 dan Ibnu Majah 2/851 no: 2547)
(10) Lihat Majmu’ Al-Fataawa 28/298
(11) Lihat al-Mulakhosh al-Fiqh 2/523-524
(14) Lihat masalah ini pada Syarhu al-Mumti’ 14/220-221
(15) Syarhu al-Mumti’ 14/221
Salah satunya adalah penegakan hudud yang menjadi satu keistimewaan ajaran islam dan merupakan bentuk kesempurnaan rahmat dan kemurahan Allah subhanahu wa ta’ala kepada makhluknya.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan:
“Hudud berasal dari rahmat untuk makhluk dan kebaikan mereka. Oleh karena itu, sudah sepatutnya orang yang menghukum manusia Karena dosa-dosa mereka bertujuan dalam melakukannya untuk kebaikan dan rahmat kepada mereka, sebagaimana tujuan orang tua membina anak-anaknya dan dokter dalam mengobati orang yang sakit.” (1)
PENGERTIAN HUDUD
Hudud adalah kosa kata dalam bahasa Arab yang merupakan bentuk jama’ (plurals) dari kata had yang asal artinya pembatas antara dua benda. Sehingga dinamakan had karena mencegah bersatunya sesuatu dengan yang lainnya. (2) Ada juga yang menyatakan bahwa kata had berarti al-man’u (pencegah), sehingga dikatakan Hudud Allah adalah perkara-perkara yang Allah larang melakukan dan melanggarnya (3).
Adapun menurut syar’i, istilah hudud adalah hukuman-hukuman kejahatan yang telah ditetapkan oleh syara’ untuk mencegah dari terjerumusnya seseorang kepada kejahatan yang sama dan menghapus dosa pelakunya. (4)
DELIK HUKUMAN KEJAHATAN (Jarimah al-Hudud)
Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya sudah menetapkan hukuman-hukuman tertentu bagi sejumlah tindak kejahatan tertentu yang disebut jaraimu al-hudud (delik hukuman kejahatan).
Yaitu meliputi kasus; perzinahan, tuduhan berzina tanpa bukti yang akurat, pencurian, mabuk-mabukan, muharabah
(pemberontakan dalam negara Islam dan pengacau keamanan), murtad, dan perbuatan melampui batas lainnya. (5)
Dengan demikian Hudud mencakup 7 jenis:
1. Had zina (hukuman Zina) ditegakkan untuk menjaga keturunan dan nasab.
2. Had al-Qadzf (hukuman orang yang menuduh berzina tanpa bukti) untuk menjaga kehormatan dan harga diri
3. Had al-Khamr (Hukuman orang yang minum Kamer (minuman memabukkan) untuk menjaga akal
4. Had as-Sariqah (Hukuman mencuri) untuk menjaga harta
5. Had al-Hiraabah (hukuman para perampok) untuk menjaga jiwa, harta dan harga diri kehormatan.
6. Had al-Baghi (Hukuman pembangkang) untuk menjaga agama dan jiwa
7. Had ar-Riddah (hukuman orang murtad) untuk menjaga agama. (6)
HIKMAH PENSYARIATAN HUDUD
Hudud disyaria’tkan untuk kemaslahan hamba dan memiliki tujuan yang mulia. Diantaranya adalah:
a. Siksaan bagi orang yang berbuat kejahatan dan membuatnya jera. Apabila ia merasakan sakitnya hukuman ini dan akibat buruk yang muncul darinya maka ia akan jera untuk mengulanginya kembali dan dapat mendorongnya untuk istiqamah dan selalu taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Maidah/5:38)
b. Membuat jera manusia dan mencegah mereka terjerumus dalam kemaksiatan, oleh karena itu Allah memerintahkan untuk mengumumkan had dan menerapkannya dihadapan manusia.
“Dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (Qs. an-Nur/24:2)
Syeikh ibnu Utsaimin t menyatakan bahwa diantara hikmah dari hudud adalah membuat jera pelaku untuk tidak mengulangi dan orang lain agar tidak terjerumus padanya dan pensucian dan penghapusan dosa. (7)
c. Hudud adalah penghapus dosa dan pensuci jiwa pelaku kejahatan tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu, ia bertutur:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلَا تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ فَبَايَعْنَاهُ عَلَى ذَلِك
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dan disekeliling beliau ada sekelompok sahabatnya, “Berjanji setialah kamu kepadaku, untuk tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak membunuh anak-anak kamu dan tidak berbuat dusta sama sekali serta tidak bermaksiat dalam hal yang ma’ruf. Siapa di antara kamu yang menepati janjinya, niscaya Allah akan memberikannya pahala. Tetapi siapa saja yang melanggar sesuatu darinya, lalu diberi hukuman didunia maka hukuman itu adalah sebagai kafarah (penghapus dosanya), dan barangsiapa yang melanggar sesuatu darinya lalu ditutupi olah Allah kesalahannya (tidak dihukum), maka terserah kepada Allah; Kalau Dia menghendaki diampuni-Nya kesalahan orang itu dan kalau Dia menghendaki disiksa-Nya.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari I/ 64 no: 18, Muslim 3/1333 no: 1709 dan Nasa’i 7/148)
d. Menciptakan suasana aman dalam masyarakat dan menjaganya.
e. Menolak keburukan, dosa dan penyakit dari masyarakat, karena kemaksiatan apabila telah merata dan menyebar pada masyarakat maka akan diganti Allah dengan kerusakan dan musibah serta dihapusnya kenikmatan dan ketenangan. Untuk menjaga hal ini maka solusi terbaiknya adalah menegakkan dan menerapkan hudud. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs. ar-Rûm/30:41)
Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَحَدٌّ يُقَامُ فِيْ الأَرْضِ أَحَبُّ إِلَى أَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوْا ثَلاَثِيْنَ صَبَاحًا
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu hukuman kejahatan yang ditegakkan di muka bumi lebih penduduknya daripada mereka diguyurhujan selama empat puluh hari.” (Hasan ; Shahih Ibnu Majah no; 2057, Ibnu Majah 2/848 no : 2538, Nasa’I 8/76). (8)
SYARAT PENERAPAN AL-HUDUD (9)
Penerapan al-Hudud tidak dilakukan tanpa 4 syarat:
1. Pelaku kejahatan adalah seorang mukallaf yaitu baligh dan berakal.
2. Pelaku kejahatan tidak terpaksa dan dipaksa.
3. Pelaku kejahatan mengetahui pelarangannya.
4. Kejahatannya terbukti ia yang melakukannya tanpa ada syubhat. Hal ini bisa dibuktikan dengan pengakuannya sendiri atau dengan bukti persaksian orang lain.
HUKUM MENEGAKKAN HUKUMAN HAD
Diwajibkan kepada wali umur (penguasa) untuk menegakkan dan menerapkan hukuman Had kepada seluruh rakyatnya berdasarkan dalil dari al-Qur`aan, as-Sunnah dan Ijma’ serta dituntut qiyas yang shahih. (10)
Dalil al-Qur`aan diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Maidah/5:38)
Dalil as-Sunnah diantaranya adalah hadits Ubadah bin Shamit yang menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَقِيمُوا حُدُودَ اللَّهِ فِي الْقَرِيبِ وَالْبَعِيدِ وَلَا تَأْخُذْكُمْ فِي اللَّهِ لَوْمَةُ لَائِمٍ
“Tegakkanlah hukuman-hukuman (dari) Allah pada kerabat dan lainnya, dan janganlah kecamanan orang yang suka mencela mempengaruhi kamu dalam (menegakkan hukum-hukum) Allah.” (Hasan: Shahih Ibnu Majah No. 2058 dan Ibnu Majah No. 2540)
Demikian juga ulama kaum muslimin sepakat atas hal ini.
TIDAK DIBENARKAN SYAFAAT (REKOMENDASI) PEMBEBASAN HUKUMAN, BILA SUDAH DIMEJA HIJAUKAN
Apabila perkaranya telah masuk ke pemerintah atau telah dimeja hijaukan maka dilarang adanya syafaat (rekomendasi) pembebasan atau pengurangan hukuman. Juga pemerintah tidak boleh menerima syafaat dalam hal ini. Hal ini dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang berbunyi:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa kaum Quraisy sangat memusingkan mereka ihwal seorang perempuan suku Makhzum yang telah melakukan kasus pencurian. Mereka mengatakan, “Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu mengemukakan permintaan supaya perempuan itu dibebaskan)?” Tidak ada yang berbicara hal itu, kecuali Usamah kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Beliau menjawab, “Adakah engkau hendak menolong supaya orang bebas dari hukuman Allah?” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri lalu berkhutbah, “Hai sekalian manusia, orang-orang sebelum kamu menjadi sesat hanyalah disebabkan apabila seorang bangsawan mencuri, mereka biarkan (tidak melaksanakan hukuman kepadanya. Demi Allah, kalaulah seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya Muhammad memotong tangannya.” (Muttafaqun ’alaih)(11)
Dalam hadits yang mulia ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari orang yang member syafaat dalam hukuman had setelah sampai ke pemerintah. Adapun bila belum sampai maka diperbolehkan.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah menuturkan:
Tidak boleh menggagalkan (hukuman had) dengan syafaat, hadiah dan yang lainnya dan tidak boleh memberikan syafaat padanya. Siapa yang menggagalkannya karena hal ini –padahal ia mampu menerapkannya- maka semoga laknat Allah, malaikat dan semua manusia menimpanya.(12)
PIHAK YANG BERWENANG MELAKSANAKAN HUDUD
Tak ada yang berwenang menegakkan hudud, kecuali imam, kepala negara, atau wakilnya (aparat pemerintah yang mendapat tugas darinya). Sebab, di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliaulah yang melaksanakannya, demikian pula para Khalifahnya sepeninggal Beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah juga mengutus Unais radhiallahu ‘anhu untuk melaksanakan hukum rajam, sebagaimana dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنْ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا
“Wahai Unais, berangkatlah menemui isteri orang itu, jika ia mengaku (berzina), maka rajamlah!” (HR al-Bukhaari no. 2147)
Demikian juga memerintahkan para sahabat untuk merajam Maa’iz, dengan menyatakan:
اذْهَبُوا بِهِ فَارْجُمُوهُ
“Bawalah ia dan rajamlah.” (HR al-Bukhaari no. 6815)
Demikian juga karena penentuan hukuman had dibutuhkan ijtihad dan tidak aman dari kezholiman, sehingga wajib dilaksanakan oleh imam atau wakilnya. (13)
LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN SAMA DALAM HUDUD?
Wanita dalam penerapan hukuman had sama seperti lelaki, karena pada asalnya semua yang ditetapkan syari’at untuk lelaki juga berlaku pada wanita sampai ada dalil yang mengkhususkannya. Hal ini umum berlaku dalam ibadah, mu’amal ataupun dalam hukuman. Namun para ulama memberikan 3 pengecualian, yaitu:
a. Wanita dihukum dengan duduk sedangkan lelaki dengan berdiri.
b. Pakaian wanita diikat sedangkan lelaki tidak.
c. Jangannya di tahan (diikat) hingga tidak terbuka auratnya, sedangkan lelaki tidak. (14)
Syeikh ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan: Inilah yang membedakan wanita dengan laki-laki dalam had karena kebutuhan menuntutnya. Kalau tidak maka pada asalnya wanita sama dengan lelaki.(15)
Demikianlah selintas permasalahan hudud dalam islam. Mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan kepada kaum muslimin tentang keindahan dan kelengkapan syari’at islam.
Wabillahitaufiq.
Referensi:
1. Asy-Syarhu al-Mumti’ ‘Ala Zad al-Mustaqni’, Syeikh Muhamad bin Shalih al-Utsaimin, cetakan pertama tahun 1428, Dar Ibnu al-Jauzi
2. Fat-hu Dzi al-Jalal wa al-Ikram, Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, cetakan pertama tahun 1428 H, al-Maktabah al-Islamiyah.
3. Al-Mulakhash al-Fiqh, Prof.DR. Sholeh bin Abdillah alfauzaan, cetakan pertama tahun 1423 H, Idârat al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta`
4. Taudhih al-Ahkam min Bulugh al-Maram, Syeikh Abdullah bin Abdurrahman al-Basâm, cetakan kelima tahun 1423 H, Maktabah al-Asadi.
5. Manhaj as-Salikin Wa Taudih al-Fiqhu Fiddin, Syeikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di, tahqiq Muhammad bin Abdulaziz al-Khudhairi, cetakan pertama tahun 1421 H, Dar al-Wathan
6. Dll.
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Artikel: EkonomiSyariat.Com
Footnes:
(1) Al-Mulakhosh al-Fiq-hi 2/521 menukil dari Hasyiyah ar-Raudh al-Murbi’ 7/300.
(2) Lihat Al-Mulakhosh al-Fiqh 2/521 dan Syarhu al-Mumti’ 14/207
(3) Syarhu al-Mumti’ 14/206 dan lihat juga Fat-hu al-Jalaah 5/329 dan Mulakhos al-Fiqh 2/521.
(4) Fiq-hus Sunnah 2/302
(5) Lihat Manhaj as-Sâlikin, Syeikh as-Sa’di hal. 239-244
(6) Lihat Sarhu al-Mumti’ 14/206
(7) Lihat lebih lengkap lagi hikmah pensyariatan had ini dalam al-Mulakhosh al-Fiqh 2/521 dan Taudhih al-Ahkâm 6/210-211
(8) Lihat pembahasan ini dalam al-Mulakhosh al-Fiqh 2/522-523, dan Syarhu al-Mumti’ 14/207-213.
(9) Lihat Taudhih al-Ahkaam, Syeikh al-Basaam 6/210 dan Fat-hu Dzil Jalaal 5/330 serta Syar-hu al-Mumti’ 14/208
(10) Lihat Fathul Bari 12/87 No. 6788, Muslim 2/1315 no 1688, ‘Aunul Ma’bud 12/31 No: 4351, Nasa’I 7/74, Tirmidzi 2/442 no: 1455 dan Ibnu Majah 2/851 no: 2547)
(10) Lihat Majmu’ Al-Fataawa 28/298
(11) Lihat al-Mulakhosh al-Fiqh 2/523-524
(14) Lihat masalah ini pada Syarhu al-Mumti’ 14/220-221
(15) Syarhu al-Mumti’ 14/221
Sunday, August 28, 2011
Amalan Sunat Hari Raya 'Idil Fitri
![]() |
| kad raya yang diedit utk blog Studiokini. (^_^) |
Bulan Ramadhan bakal melabuhkan tirainya kembali. Tirai Syawal pun menjelma. Dalam menyambut hari raya 'Idul Fitri,kita mestilah menyambutnya dengan gembira dan penuh semangat sebagai tanda kemenangan selepas berpuasa di bulan Ramadhan. Malah Rasulullah sendiri menyeru seluruh umat Islam termasuk wanita untuk keluar meraikan hari raya.
“Rasulullah s.a.w memerintahkan kami (kaum wanita) keluar pada hari raya fitri dan adha; termasuk para gadis, wanita haid, anak dara sunti. Adapun mereka yang haid tidak menunaikan solat tetapi menyertai kebaikan dan seruan kaum muslimin” (Riwayat al-Bukhari).
Suasana kegembiraan digalakkan pada hari raya, maka Nabi s.a.w mengizinkan atau menggalakkan hiburan seperti nyanyian, pertunjukan dan sukaria yang lain selagi tidak melanggar syariat. Dalam hadis daripada isteri Rasulullah s.a.w Ummul Mukminin ‘Aishah r.aha:
bahawa pada hari raya Fitri atau Adha, Abu Bakr masuk ke rumahnya (rumah ‘Aishah) dan Nabi s.a.w berada di sisinya. Ketika itu ada dua orang gadis sedang menyanyi mengenai kebanggaan Ansar pada Hari Bu‘ath (peperangan antara Aus dan Khazraj). Abu Bakr berkata: “Suara syaitan” (sebanyak dua kali). Nabi s.a.w bersabda: “Biarkan mereka wahai Abu Bakr! Setiap kaum ada hari raya dan sesungguh hari ini adalah hari raya kita” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Dalam menyambut hari raya 'Idil Fitri, pelbagai amalan sunat boleh dilaksanakan bermula pada malam 1 Syawal. Antara amalan sunat yang boleh dilakukan pada hari raya 'Idil Fitri ialah:
Menghidupkan Malam Raya
“Sesiapa menghidupkan malam hari raya fitrah dan malam hari raya korban, nescaya hatinya tidak mati pada hari hati-hati lain mati”. (Riwayat Imam at-Thabrani dari ‘Ubadah r.a.)
Hadis ini menurut Imam Nawawi dalam al-Majmu’; sanadnya adalah dhaif. Namun menurut ulamak, hadis dhaif harus diamalkan dalam fadhilat amalan. (Lihat; Mughni al-Muhtaj, jil. 1, hlm. 426).(ehsan: blog Tazkirah)
Bertakbir Pada Hari Raya
Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad s.a.w., sabdanya: "Hiasilah hari-hari raya kamu dengan takbir. "(Riwayat Tabrani)
Dari Anas r.a., dari Nabi Muhammad s.a.w., sabdanya: "Hiasilah kedua-dua hari raya (Aidilfitri dan Aidiladha) dengan tahlil, takbir, tahmid dan taqdis."(Riwayat Abu Nu'aim)
Takbir raya bermula pada malam akhir Ramadhan iaitu sebaik sahaja masuk waktu Maghrib kerana kalendar Islam dikira pada waktu Maghrib.
Makan Sebelum Pergi Menunaikan Solat 'idil Fitri.
Diriwayatkan dari Buraidah ra. ia berkata : Adalah Nabi saw keluar untuk solat 'idil fitri selepas makan terlebih dahulu dan tidak makan pada 'ldil adha sehingga beliau kembali dari solat hari raya. ( H.R : Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan Ahmad)
Mandi Sunat Sebelum Solat Hari Raya
Sunat mandi sebelum mengerjakan sembahyang hari raya sebagaimana disunatkan mandi sebelum sembahyang Jumaat. Ini kerana hari tersebut berkumpul ramai orang untuk mendirikan sembahyang.
Turut disunatkan untuk berharum-haruman, menghilangkan bulu-buluan, memotong kuku dan menghilangkan bau-bauan pada badan dan pakaian. Dalam hal memotong kuku dan menghilangkan bulu-buluan ini tidak disunatkan bagi mereka yang hendak melakukan ibadat korban melainkan setelah menyembelih binatang korbannya.
Lafaz niat mandi sunat 'idil Fitri ialah:
NAWAITUL GHUSLA LI I’DIL FITRI / I’DIL ADHA /SUNNATALLILAHI TAA’LA
“Sahaja aku mandi sunat hari raya fitrah/ hari raya adha (korban) kerana Allah S.W.T. Taa’la”.
Sunat Memakai Pakaian Cantik
Umat Islam disunatkan memakai pakaian yang terbaik.Pakaian yang terbaik tidak semestinya pakaian baru.Afdhal memakai pakaian berwarna putih. Jika seseorang itu terdapat dua pakaian yang sama terbaik dan eloknya, maka yang putihlah diutamakan. Jika pakaian yang terbaik itu bukan berwarna putih, maka pakaian tersebut lebih afdhal daripada pakaian yang putih. Sunat juga memakai serban.
Tidak melalui jalan yang sama waktu pergi dan balik solat hari raya.
Diriwayatkan dari Jaabir ra. ia berkata : Adalah Nabi saw apabila keluar untuk solat hari raya ke mushalla, beliau menyelisihkan jalan ( yakni waktu pergi melalui satu jalan dan waktu balik melalui jalan yang lain ). (H.R : Bukhari )
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di hari raya mengikuti satu jalan kemudian balik mengikuti jalan yang lain.”
(Hadis riwayat Abu Daud)
Solat Hari Raya 'Idul Fitri
Menunaikan solat sunat 'Idul Fitri secara berjemaah. Lafaz niat:
Sahaja aku solat sunat 'idul fitri dua rakaat,mengikut imam kerana Allah Taala.
Sambutlah Syawal dengan syariat Islam. Dalam gembira,batas pergaulan wajib dijaga agar segala amalan di bulan Ramadhan dipraktikkan di bulan-bulan yang lain.
disusun oleh: Admin Studiokini Media.
*artikel ini turut dipaparkan di laman blog Studiokini Media
Saturday, July 23, 2011
Jangan Hisap Madunya Sekarang
Cinta adalah fitrah bagi setiap manusia. Dengan cinta kita kenal siapa Pencipta kita, saudara kita,keluarga kita dan seterusnya pasangan hidup kita.
Kalau nak dihurai makna cinta, memang takkan habis hatta sejuta tahun diberi peluang untuk huraikan erti cinta,pasti takkan cukup.
Cinta adalah satu benda subjektif, terpulang pada diri masing-masing untuk menilai & mentafsirnya. Dalam hidup dunia akhir zaman ni, persoalan cinta atau istilah mudah couple memang sesuatu yang sukar dielak. Manis diucap di mulut tapi derita hati kadang-kala membuat kita ingin disayangi dan dihargai.
Persoalan hukum cinta rasanya sudah puas diperdebatkan. Ada yang menyatakan haram, ada yang kata harus dan ada yang kata wajib. Yang penting bagaimana cara nak uruskan cinta, sudah cukup untuk menilai sejauh mana hanyutnya manusia dengan cinta.
Kalau nak bicara dari aspek agama Islam,penulis sendiri bukanlah seorang golongan ulama dalam mengulas isu ini. Tapi apa yang mampu penulis katakan dan faham, cinta ibarat pisau. Kalau pisau digunakan dengan baik,baiklah hasilnya tapi kalau untuk membunuh, matilah manusia itu.
Ramai orang beranggapan cinta itu terlalu negatif dek kerana si pelakunya. Cinta ditafsirkan sebagai berpegangan tangan, berciuman, meraba sana-sini, melafazkan depan orang ramai, bercuit-cuitan dan sebagainya sehinggakan cinta dilihat sebagai sesuatu yang kotor.
Memang indah hidup bercinta apatah lagi berpegang sana-sini namun pengakhiran, belum pasti bahagia. Sandaran cinta terhadap seseorang seharusnya disusuli dengan niat kita,tak lain tak bukan kahwin. Kalau cinta hanya untuk suka-suka, itu bukan cinta namanya tapi tuntutan nafsu bawahan.
Lelaki ibarat kumbang dan perempuan ibarat bunga. Kalau si kumbang terlalu ghairah menghisap madu si bunga, itu bukan kumbang yang baik. Mengapa? Kerana kumbang tadi hanya menggunakan si bunga tadi untuk kepuasan dirinya. Akhirnya, kumbang yang kenyang bunga yang layu.
Itulah tafsiran sebenar realiti cinta. Kalau perempuan terlalu mudah serahkan mahkota hatta kulitnya untuk dibelai, si lelaki akan terus cuba untuk mencari mahkota yang lebih tinggi. Dan akhirnya apabila perempuan terperangkap dan serahkan segala mahkotanya, maka apa lagi yang lelaki inginkan selepas puas dia mendapatnya?
Teringat hadis mengenai hukum memegang tangan wanita bukan muhrim:
“Bergerombolan dengan babi (khinzir) itu adalah lebih baik berbanding dengan bersentuhan(secara sengaja) dengan wanita yang bukan mahramnya.” Riwayat Ibnu Majah
"Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya." (HR At-Tabrani dan Baihaqi)
Jangan dihisap madu itu sebelum ia sah menjadi milik kita.Dalam bercinta,jagalah setakat mana yang termampu. Nikmat madu itu nyaman apabila tiba masanya nanti yakni kahwin.
*karya asli milik aku. turut diletakkan dalam blog Studiokini Media.sekadar pandangan peribadi
Kalau nak dihurai makna cinta, memang takkan habis hatta sejuta tahun diberi peluang untuk huraikan erti cinta,pasti takkan cukup.
Cinta adalah satu benda subjektif, terpulang pada diri masing-masing untuk menilai & mentafsirnya. Dalam hidup dunia akhir zaman ni, persoalan cinta atau istilah mudah couple memang sesuatu yang sukar dielak. Manis diucap di mulut tapi derita hati kadang-kala membuat kita ingin disayangi dan dihargai.
Persoalan hukum cinta rasanya sudah puas diperdebatkan. Ada yang menyatakan haram, ada yang kata harus dan ada yang kata wajib. Yang penting bagaimana cara nak uruskan cinta, sudah cukup untuk menilai sejauh mana hanyutnya manusia dengan cinta.
Kalau nak bicara dari aspek agama Islam,penulis sendiri bukanlah seorang golongan ulama dalam mengulas isu ini. Tapi apa yang mampu penulis katakan dan faham, cinta ibarat pisau. Kalau pisau digunakan dengan baik,baiklah hasilnya tapi kalau untuk membunuh, matilah manusia itu.
Ramai orang beranggapan cinta itu terlalu negatif dek kerana si pelakunya. Cinta ditafsirkan sebagai berpegangan tangan, berciuman, meraba sana-sini, melafazkan depan orang ramai, bercuit-cuitan dan sebagainya sehinggakan cinta dilihat sebagai sesuatu yang kotor.
Memang indah hidup bercinta apatah lagi berpegang sana-sini namun pengakhiran, belum pasti bahagia. Sandaran cinta terhadap seseorang seharusnya disusuli dengan niat kita,tak lain tak bukan kahwin. Kalau cinta hanya untuk suka-suka, itu bukan cinta namanya tapi tuntutan nafsu bawahan.
Lelaki ibarat kumbang dan perempuan ibarat bunga. Kalau si kumbang terlalu ghairah menghisap madu si bunga, itu bukan kumbang yang baik. Mengapa? Kerana kumbang tadi hanya menggunakan si bunga tadi untuk kepuasan dirinya. Akhirnya, kumbang yang kenyang bunga yang layu.
Itulah tafsiran sebenar realiti cinta. Kalau perempuan terlalu mudah serahkan mahkota hatta kulitnya untuk dibelai, si lelaki akan terus cuba untuk mencari mahkota yang lebih tinggi. Dan akhirnya apabila perempuan terperangkap dan serahkan segala mahkotanya, maka apa lagi yang lelaki inginkan selepas puas dia mendapatnya?
Teringat hadis mengenai hukum memegang tangan wanita bukan muhrim:
“Bergerombolan dengan babi (khinzir) itu adalah lebih baik berbanding dengan bersentuhan(secara sengaja) dengan wanita yang bukan mahramnya.” Riwayat Ibnu Majah
"Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya." (HR At-Tabrani dan Baihaqi)
Jangan dihisap madu itu sebelum ia sah menjadi milik kita.Dalam bercinta,jagalah setakat mana yang termampu. Nikmat madu itu nyaman apabila tiba masanya nanti yakni kahwin.
*karya asli milik aku. turut diletakkan dalam blog Studiokini Media.sekadar pandangan peribadi
Monday, May 2, 2011
Aksi Lucah Ketika Solat
Pernahkah anda solat berjemaah dan di hadapan anda seorang anak muda yang berseluar jean ketat sedang bersujud?. Jika anda perhatikan anak muda itu akan memaparkan lurah punggungnya dengan anggun sekali sambil dia kusyuk bersujud.
Dalam sebulan saya akan sentiasa terserempak dengan aksi lucah tersebut sekurang-kurangnya sekali. Melihat perkembangan jumlah anak-anak muda yang makin ramai datang bersolat di Masjid amat membanggakan sekarang ini, tapi malangnya terdapat ramai yang tidak menghayati rukun serta syarat sah dan batal solat tersebut.
Jika kita memahami dan menghayati solat maka kita akan secara lansung menjaga tertib berpakaian. Agama kita tidak menghalang umatnya memilih pakaian yang kita selesa asalkan ianya menutup aurat. Di samping itu terdapat beberapa ciri-ciri lain yang kita patut jaga.
1. Pakaian kita hendaklah sentiasa dalam keadaan menutup aurat kita dalam semua pergerakan solat seperti rukuk, sujud, duduk dan lain-lain. Maka amat mustahak kita memilih baju yang agak panjang sedikit yang tidak akan terselak ketika kita sujud atau rukuk. Baju ketat ala Shah Rukh Khan amat tak sesuai. Begitu juga seluar ketat ala penyanyi rock atau seluar londeh ala penyanyi Rap perlu di jauhkan.
2. Pastikan pakaian kita tidak dicemari najis dan sentiasa bersih. Kita perlu berhati-hati dalam segala aktiviti harian kita jika kita mahu menggunakan pakaian yang sama untuk bersolat. Jagalah kebersihan diri kita dan pakaian kita.
3. Jangan kita memakai pakaian yang memaparkan cogan kata atau gambar yang celupar, lucah, bodoh atau apa-apa saja yang mempromosikan perbuatan yang tidak patut. Kalau pakaian yang kosong sahaja lagi bagus.
4. Elakkan juga pkaian yang nipis dan terkoyak sana sini.
Daripada senarai etika berpakaian di atas kesimpulannya muslim yang memelihara solatnya akan terpelihara pakaiannya dengan sopan dan menarik. Muslim tersebut akan mempunyai satu prinsip yang tetap dalam membuat pilihan pakaian.
Kita juga akan terhalang dari mengikut secara hentam kromo segala budaya pakaian artis barat yang tak sesuai. Terjagalah umat Islam dari mudah dipengaruhi oleh segala iklan dan promosi media yang keterlaluan menonjolkan budaya artis yang palsu.
Sempena hari jumaat ini, mari kita lihat semula citarasa memilih pakaian kita agar solat kita terpelihara dan diterima Tuhan
Dalam sebulan saya akan sentiasa terserempak dengan aksi lucah tersebut sekurang-kurangnya sekali. Melihat perkembangan jumlah anak-anak muda yang makin ramai datang bersolat di Masjid amat membanggakan sekarang ini, tapi malangnya terdapat ramai yang tidak menghayati rukun serta syarat sah dan batal solat tersebut.
Jika kita memahami dan menghayati solat maka kita akan secara lansung menjaga tertib berpakaian. Agama kita tidak menghalang umatnya memilih pakaian yang kita selesa asalkan ianya menutup aurat. Di samping itu terdapat beberapa ciri-ciri lain yang kita patut jaga.
1. Pakaian kita hendaklah sentiasa dalam keadaan menutup aurat kita dalam semua pergerakan solat seperti rukuk, sujud, duduk dan lain-lain. Maka amat mustahak kita memilih baju yang agak panjang sedikit yang tidak akan terselak ketika kita sujud atau rukuk. Baju ketat ala Shah Rukh Khan amat tak sesuai. Begitu juga seluar ketat ala penyanyi rock atau seluar londeh ala penyanyi Rap perlu di jauhkan.
2. Pastikan pakaian kita tidak dicemari najis dan sentiasa bersih. Kita perlu berhati-hati dalam segala aktiviti harian kita jika kita mahu menggunakan pakaian yang sama untuk bersolat. Jagalah kebersihan diri kita dan pakaian kita.
3. Jangan kita memakai pakaian yang memaparkan cogan kata atau gambar yang celupar, lucah, bodoh atau apa-apa saja yang mempromosikan perbuatan yang tidak patut. Kalau pakaian yang kosong sahaja lagi bagus.
4. Elakkan juga pkaian yang nipis dan terkoyak sana sini.
Daripada senarai etika berpakaian di atas kesimpulannya muslim yang memelihara solatnya akan terpelihara pakaiannya dengan sopan dan menarik. Muslim tersebut akan mempunyai satu prinsip yang tetap dalam membuat pilihan pakaian.
Kita juga akan terhalang dari mengikut secara hentam kromo segala budaya pakaian artis barat yang tak sesuai. Terjagalah umat Islam dari mudah dipengaruhi oleh segala iklan dan promosi media yang keterlaluan menonjolkan budaya artis yang palsu.
Sempena hari jumaat ini, mari kita lihat semula citarasa memilih pakaian kita agar solat kita terpelihara dan diterima Tuhan
Sunday, March 27, 2011
Gosip: Jangan Sampai Makan Daging Saudara
Gosip dikatakan satu kebiasaan malah satu keperluan bagi seseorang personaliti terkenal. Ada sesetengah individu yang memang mahukan dirinya digosip dan bangga.Baik artis, mahupun politikus. Demi glamour, semuanya ok!
Artis merasakan keperluan gosip untuk popular. Kalau tiada gosip, tiada popular. Kalau tiada popular, tiada wang masuk. Bagi ahli politik pula, kalau tiada kontroversi maka orang (rakyat) tidak akan kenal. Tapi bolehkah gosip-gosip ni?
Gosip jika secara baik, seperti menceritakan kebaikan seseorang, dibenarkan. Cara ini bukan sahaja mampu menaikkan imej seseorang dengan perwatakan yang baik malah akan menjadi contoh kepada pihak lain.
Namun dunia hari ini, sukar untuk kita cari gosip yang baik. Yang ada, banyak tentang keburukan, penceraian, fitnah seks sana-sini, dan sebagainya. Malah keadaan ini seolah menjadi 'halal' pada zaman sekarang. Bukti, tak perlu susah mencarinya, beli saja akhbar-akhbar atau majalah atau baca saja blog-blog di internet.
Dalam dunia politik, tuduhan seks tanpa bukti yang jelas dan nyata makin menjadi budaya. Ada blogger-blogger politikus seolah-olah menjadi wajib baginya untuk menyebarkan fitnah. Gambar-gambar di edit, cerita direka, dan video diada-adakan.
Terlupakah kita dengan hadis-hadis yang mencegah kita untuk menyebarkan fitnah? Malah mempercayai berita yang belum tentu benarnya, turut ditegah.
Rasulullah bersabda: Seseorang hamba yang membicarakan sesuatu yang belum jelas baginya (hakikat dan akibatnya) akan dilempar ke neraka sejauh antara timur dan barat (Hadis riwayat Muslim).
Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).
Sesiapa yang menyebarkan kata-kata yang memalukan seorang Muslim dengan tidak sebenarnya, nescaya dia akan diberi malu oleh Allah dalam neraka pada hari kiamat (Hadis riwayat Ibn Abid Dunya dari Abu Zar).
"Akan muncul suatu ketika di mana ilmu Islam dihapuskan, muncul pelbagai fitnah, sifat kedekut dan jenayah berleluasa". (Hadis riwayat Muslim)
Apa yang diperkatakan dalam hadis-hadis ini, semuanya telah berlaku sekarang. Malah menjadi satu trend pula. Tak cukup dengan hadis-hadis tadi, Allah telah memperingatkan kita melalui firmannya:
Allah tidak suka kepada perkataan buruk yang dikatakan terang-terang. Kecuali (hanya di muka pengadilan saja) oleh yang dianiaya. (Surah an-Nisa, ayat 12)
" Dan jangan pula setengah kamu mengumpat yang lain, suakakah salah seorang kamu, bahawa dia memakan daging saudaranya yang telah mati(bangkai)? Maka tentu kamu tidak suka memakannya ".
(Q.S. Al-Hujurat: 12)
“Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.”
(Al-Baqarah: ayat 191)
“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah,..”
(Al-Baqarah: ayat 193)
“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.”
(Al-Humazah: ayat 1)
Banyak lagi dalil-dalil yang jelas dan nyata mengenai persoalan fitnah ini. Jauhilah diri kita daripada menjadi hambaNya yang suka menyebarkan fitnah. Kepada yang duduk dalam dunia hiburan, bergosiplah dengan cara yang betul Dan bagi para politikus, jangan jadikan fitnah sebagai satu kewajipan politik. Hentikan politik-politik fitnah seks sana-sini. Kami rakyat bawahan sudah bosan dengan politik kotor di negara ini.
Thursday, January 13, 2011
AWAS!!!Selamatkah Gambar Kita?
Terdapat berpuluh laman sosial yang wujud di muka bumi ini. Dari Friendster,Myspace,sehinggalah ke Facebook. Dan dalam laman-laman tersebut, pelbagai gambar diupload dengan gaya-gaya tersendiri.
Memang gambar yang diupload itu atas dasar gambar peribadi tapi dalam kita upload gambar-gambar tersebut, ada pihak yang akan ambil kesempatan.
Percaya atau tak, tapi inilah realiti. Ada gambar-gambar anda di'guna' untuk tujuan lain. Ada yang diedit jadi gambar seksi-seksa, ada yang dijadikan bahan 'bualan nafsu' di laman-laman blog dan ada yang dijadikan bahan senda gurau 'alat bawah'.
Memang kasar bunyinya.
Paling malang,gambar gadis bertudung dijadikan sasaran utama. Tak caya? Cubalah buat penilaian sendiri dengan search Google.
Bagi pasangan suami isteri tu,jagalah barang-barang privasi anda. Sekarang terlalu banyak aplikasi yang boleh diguna untuk godam laman-laman sosial ni. Bukan cakap bohong tapi memang berlaku.
Untuk elakkan gambar anda diguna oleh pihak yang tak bertanggungjawab, eloklah diprivatekan setiap gambar di laman sosial untuk tatapan sesetengah orang saja. Atau jangan upload gambar penuh. Atau jangan upload gambar seksi-seksa. Atau jangan upload gambar tak tutup aurat. Atau JANGAN UPLOAD terus gambar peribadi yang boleh dijadikan bahan tadi.Kalau nak upload sangat,elak letak gambar sorang diri.
Zaman moden macam-macam boleh jadi. Awasi harta anda termasuk video atau gambar. Terutama kepada kaum Hawa, jangan mudah percaya dengan lelaki selagi tidak ada ijab kabul. Napa? Kerana berjuta mangsa sudah jadi sasaran makhluk-makhluk nafsu kuat ni.
* aku bukan ahli agama tapi aku cuma sampaikan saja hasil pemerhatian, search sana-sini dan akhirnya, terasa nak publish entry.
Memang gambar yang diupload itu atas dasar gambar peribadi tapi dalam kita upload gambar-gambar tersebut, ada pihak yang akan ambil kesempatan.
Percaya atau tak, tapi inilah realiti. Ada gambar-gambar anda di'guna' untuk tujuan lain. Ada yang diedit jadi gambar seksi-seksa, ada yang dijadikan bahan 'bualan nafsu' di laman-laman blog dan ada yang dijadikan bahan senda gurau 'alat bawah'.
Memang kasar bunyinya.
![]() |
| perkataan gambar gadis dan bertudung tertera dengan jelas |
Paling malang,gambar gadis bertudung dijadikan sasaran utama. Tak caya? Cubalah buat penilaian sendiri dengan search Google.
Bagi pasangan suami isteri tu,jagalah barang-barang privasi anda. Sekarang terlalu banyak aplikasi yang boleh diguna untuk godam laman-laman sosial ni. Bukan cakap bohong tapi memang berlaku.
Untuk elakkan gambar anda diguna oleh pihak yang tak bertanggungjawab, eloklah diprivatekan setiap gambar di laman sosial untuk tatapan sesetengah orang saja. Atau jangan upload gambar penuh. Atau jangan upload gambar seksi-seksa. Atau jangan upload gambar tak tutup aurat. Atau JANGAN UPLOAD terus gambar peribadi yang boleh dijadikan bahan tadi.Kalau nak upload sangat,elak letak gambar sorang diri.
Zaman moden macam-macam boleh jadi. Awasi harta anda termasuk video atau gambar. Terutama kepada kaum Hawa, jangan mudah percaya dengan lelaki selagi tidak ada ijab kabul. Napa? Kerana berjuta mangsa sudah jadi sasaran makhluk-makhluk nafsu kuat ni.
* aku bukan ahli agama tapi aku cuma sampaikan saja hasil pemerhatian, search sana-sini dan akhirnya, terasa nak publish entry.
Saturday, December 25, 2010
Soal Ucap Perayaan Agama Lain
Petikan message yang Ami dapat di Facebook Ami gara-gara tindakan post ucap selamat hari Krismas kepada kawan-kawan penganut Kristian. Atas sebab tak mahu dipanjangkan isu, post terbabit diremove dan jawapan cuba dicari.
Akhirnya, sahabat blogger, Mohamadazhan menulis tentang isu ini. Seolah macam tau pula.(^_^).
Dan jawapan yang beliau tulis dalam entry tersebut diambil dari Majlis Fatwa Kebangsaan. Tak dinafikan ada khilaf dalam kalangan ulama tentang soal ni.
Keputusan:
Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-78 yang bersidang pada 12 Jun 2007 telah membincangkan Hukum Orang Islam Mengucapkan Tahniah Dan Ucapan Selamat Bersempena Perayaan Agama Bukan Islam. Muzakarah telah memutuskan bahawa:
1. Apa jua amalan atau perlakuan orang Islam dalam hal-hal yang berkaitan dengan perayaan orang bukan Islam sekiranya melibatkan akidah atau iktikad seperti mengiktiraf agama bukan Islam atau menganggap semua agama adalah sama, maka ia ditegah oleh Islam.
2. Walaubagaimanapun sekiranya amalan atau perlakuan tersebut hanya atas dasar kemasyarakatan atau hubungan sosial antara Islam dan bukan Islam untuk tujuan perpaduan, maka ia dibenarkan oleh Islam.
3. Memberi ucapan tahniah dan selamat atau mengirimkan ucapan melalui kad atau alat-alat telekomunikasi seperti e-mail atau sistem pesanan ringkas (sms) dan sebagainya kepada orang bukan Islam sempena dengan perayaan agama mereka adalah harus, dengan syarat ucapan itu tidak mengiktiraf, memuji atau memuliakan agama bukan Islam serta tidak menggunakan sebarang simbol atau lambang keagamaan mereka dalam kiriman ucapan tersebut.
Sumber:
Aish! Menteri pun pakai baju santa ni? Apa hukum? Santa dari kutub mana ni.hehe
Pak Lebai Santa naik beca.hehe. Iklan kontoversi dari TV3/4.hehe. Berwaspada dengan pluralisme yang semakin meracun minda umat Islam.
Keputusan:
Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-68 yang bersidang pada 12 Apr 2005 telah membincangkan Garis Panduan Orang Islam Turut Merayakan Hari Kebesaran Agama Orang Bukan Islam. Muzakarah telah memutuskan bahawa:
Keputusan :
Dalam menentukan perayaan orang bukan Islam yang boleh dihadiri oleh orang Islam beberapa kriteria utama perlu dijadikan garis panduan supaya ia tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kriteria-kriteria tersebut adalah seperti berikut;
1. Majlis tersebut tidak disertakan dengan upacara-upacara yang bertentangan dengan akidah Islam.
Maksud “bertentangan dengan akidah Islam” ialah sesuatu perkara, perbuatan, perkataan atau keadaan yang jika dilakukan menyebabkan tercemarnya akidah umat Islam.
Contohnya;
i. menyertakan simbol-simbol agama seperti salib, memasang lampu, lilin, pokok krismas dan sebagainya.
ii. menyanyikan lagu-lagu bercirikan agama.
iii. meletakkan apa-apa tanda bercirikan agama pada dahi, atau tanda-tanda lain pada anggota tubuh.
iv. memberikan ucapan atau isyarat yang berbentuk pujian kepada agama orang bukan Islam.
v. tunduk atau melakukan perbuatan seolah-olah menghormati upacara agama orang bukan Islam.
2. Majlis tersebut tidak disertakan dengan perbuatan yang bertentangan dengan syarak.
Maksud “bertentangan dengan syarak” ialah sesuatu perkara, perbuatan, perkataan atau keadaan yang jika dilakukan akan bertentangan dengan ajaran Islam yang diamalkan oleh masyarakat Islam.
Contohnya:
i. Memakai pakaian berwarna merah seperti santa claus atau pakaian lain yang melambangkan agama;
ii. Menghidangkan minuman atau makanan yang memabukkan dan seumpamanya;
iii. Mengadakan bunyi-bunyian atau hiasan seperti loceng gereja, pokok krismas, kuil atau memecah kelapa;
iv. Mengadakan acara yang berunsur perjudian, penyembahan, pemujaan, khurafat dan sebagainya.
3. Majlis tersebut tidak disertakan dengan “perbuatan yang bercanggah dengan pembinaan akhlak dan budaya masyarakat Islam” di negara ini.
Maksud “bercanggah dengan pembinaan akhlak dan budaya masyarakat Islam” ialah sesuatu perkara, perbuatan, perkataan atau keadaan yang jika dilakukan akan bertentangan dengan nilai dan norma kehidupan masyarakat Islam Negara ini yang berpegang kepada ajaran Islam berdasarkan Ahli Sunnah Wal Jamaah.
Contohnya:
i. Percampuran bebas tanpa batas dan adab sopan;
ii. Berpakaian yang menjolok mata;
iii. Mendendangkan lagu-lagu yang mempunyai senikata berunsur lucah serta pemujaan;
iv. Mengadakan program seperti pertandingan ratu cantik, laga ayam dan sebagainya.
4. Majlis tersebut tidak disertakan dengan perbuatan yang boleh “menyentuh sensitiviti masyarakat Islam”.
Maksud “menyentuh sensitiviti masyarakat Islam” ialah sesuatu perkara, perbuatan, perkataan atau keadaan yang jika dilakukan akan menyinggung perasaan umat Islam tentang kepercayaan dan amalan mereka.
Contohnya:
i. Ucapan-ucapan atau nyanyian berbentuk dakyah keagamaan bukan Islam;
ii. Ucapan-ucapan yang menghina umat Islam;
iii. Ucapan-ucapan yang menghina agama Islam;
iv. Persembahan yang bertujuan mempersendakan pegangan agama masyarakat Islam.
5. Pihak penganjur dan orang ramai diminta mendapatkan pandangan pihak berkuasa agama sebelum menganjur atau menghadiri majlis perayaan orang yang bukan beragama Islam.
Sumber:
Ibnul Qayyim berkata, “Hendaklah behati-hati jangan sampai terjerumus sebagaimana orang-orang bodoh, ke dalam ucapan-ucapan yang menunjukkan redha mereka terhadap agamanya. Seperti ucapan mereka, “Semoga Allah membahagiakan kamu dengan agamamu”, atau “memberkatimu dalam agamamu”, atau berkata, “Semoga Allah memuliakanmu”.
Memberi ucapan tahni’ah kepada orang-orang kafir hal-hal yang diperbolehkan (mubah) adalah dilarang jika mengandungi makna yang menunjukkan rela kepada agama mereka. Adapun memberikan tahni’ah atas hari-hari raya mereka atau syi’ar-syi’ar mereka adalah haram hukumnya dan sangat dikhuwatirkan pelakunya jatuh kepada kekufuran. (Sheikh Dr. Soleh Bin Fauzan al-Fauzan, Kitab at-Tauhid, jil. 1 di bawah tajuk al-Wala’ wal Bara’)
Harap dapat membantu sedikit sebanyak tentang persoalan ni.Maaf,bukanlah arif sangat tentang agama tapi jangan atas kekhilafan antara kita, orang lain pandang serong terhadap kita.Segalanya bergantung pada iktikad, perbuatan dan pegangan akidah kita. Akhir sekali, bacalah artikel Ustaz Hasrizal.
Akhirnya, sahabat blogger, Mohamadazhan menulis tentang isu ini. Seolah macam tau pula.(^_^).
Dan jawapan yang beliau tulis dalam entry tersebut diambil dari Majlis Fatwa Kebangsaan. Tak dinafikan ada khilaf dalam kalangan ulama tentang soal ni.
Hukum Orang Islam Mengucapkan Tahniah Dan Ucapan Selamat Bersempena Perayaan Agama Bukan Islam
Keputusan:
Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-78 yang bersidang pada 12 Jun 2007 telah membincangkan Hukum Orang Islam Mengucapkan Tahniah Dan Ucapan Selamat Bersempena Perayaan Agama Bukan Islam. Muzakarah telah memutuskan bahawa:
1. Apa jua amalan atau perlakuan orang Islam dalam hal-hal yang berkaitan dengan perayaan orang bukan Islam sekiranya melibatkan akidah atau iktikad seperti mengiktiraf agama bukan Islam atau menganggap semua agama adalah sama, maka ia ditegah oleh Islam.
2. Walaubagaimanapun sekiranya amalan atau perlakuan tersebut hanya atas dasar kemasyarakatan atau hubungan sosial antara Islam dan bukan Islam untuk tujuan perpaduan, maka ia dibenarkan oleh Islam.
3. Memberi ucapan tahniah dan selamat atau mengirimkan ucapan melalui kad atau alat-alat telekomunikasi seperti e-mail atau sistem pesanan ringkas (sms) dan sebagainya kepada orang bukan Islam sempena dengan perayaan agama mereka adalah harus, dengan syarat ucapan itu tidak mengiktiraf, memuji atau memuliakan agama bukan Islam serta tidak menggunakan sebarang simbol atau lambang keagamaan mereka dalam kiriman ucapan tersebut.
Sumber:
Aish! Menteri pun pakai baju santa ni? Apa hukum? Santa dari kutub mana ni.hehe
Pak Lebai Santa naik beca.hehe. Iklan kontoversi dari TV3/4.hehe. Berwaspada dengan pluralisme yang semakin meracun minda umat Islam.
Garis Panduan Orang Islam Turut Merayakan Hari Kebesaran Agama Orang Bukan Islam
Keputusan:
Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-68 yang bersidang pada 12 Apr 2005 telah membincangkan Garis Panduan Orang Islam Turut Merayakan Hari Kebesaran Agama Orang Bukan Islam. Muzakarah telah memutuskan bahawa:
Keputusan :
Dalam menentukan perayaan orang bukan Islam yang boleh dihadiri oleh orang Islam beberapa kriteria utama perlu dijadikan garis panduan supaya ia tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kriteria-kriteria tersebut adalah seperti berikut;
1. Majlis tersebut tidak disertakan dengan upacara-upacara yang bertentangan dengan akidah Islam.
Maksud “bertentangan dengan akidah Islam” ialah sesuatu perkara, perbuatan, perkataan atau keadaan yang jika dilakukan menyebabkan tercemarnya akidah umat Islam.
Contohnya;
i. menyertakan simbol-simbol agama seperti salib, memasang lampu, lilin, pokok krismas dan sebagainya.
ii. menyanyikan lagu-lagu bercirikan agama.
iii. meletakkan apa-apa tanda bercirikan agama pada dahi, atau tanda-tanda lain pada anggota tubuh.
iv. memberikan ucapan atau isyarat yang berbentuk pujian kepada agama orang bukan Islam.
v. tunduk atau melakukan perbuatan seolah-olah menghormati upacara agama orang bukan Islam.
2. Majlis tersebut tidak disertakan dengan perbuatan yang bertentangan dengan syarak.
Maksud “bertentangan dengan syarak” ialah sesuatu perkara, perbuatan, perkataan atau keadaan yang jika dilakukan akan bertentangan dengan ajaran Islam yang diamalkan oleh masyarakat Islam.
Contohnya:
i. Memakai pakaian berwarna merah seperti santa claus atau pakaian lain yang melambangkan agama;
ii. Menghidangkan minuman atau makanan yang memabukkan dan seumpamanya;
iii. Mengadakan bunyi-bunyian atau hiasan seperti loceng gereja, pokok krismas, kuil atau memecah kelapa;
iv. Mengadakan acara yang berunsur perjudian, penyembahan, pemujaan, khurafat dan sebagainya.
3. Majlis tersebut tidak disertakan dengan “perbuatan yang bercanggah dengan pembinaan akhlak dan budaya masyarakat Islam” di negara ini.
Maksud “bercanggah dengan pembinaan akhlak dan budaya masyarakat Islam” ialah sesuatu perkara, perbuatan, perkataan atau keadaan yang jika dilakukan akan bertentangan dengan nilai dan norma kehidupan masyarakat Islam Negara ini yang berpegang kepada ajaran Islam berdasarkan Ahli Sunnah Wal Jamaah.
Contohnya:
i. Percampuran bebas tanpa batas dan adab sopan;
ii. Berpakaian yang menjolok mata;
iii. Mendendangkan lagu-lagu yang mempunyai senikata berunsur lucah serta pemujaan;
iv. Mengadakan program seperti pertandingan ratu cantik, laga ayam dan sebagainya.
4. Majlis tersebut tidak disertakan dengan perbuatan yang boleh “menyentuh sensitiviti masyarakat Islam”.
Maksud “menyentuh sensitiviti masyarakat Islam” ialah sesuatu perkara, perbuatan, perkataan atau keadaan yang jika dilakukan akan menyinggung perasaan umat Islam tentang kepercayaan dan amalan mereka.
Contohnya:
i. Ucapan-ucapan atau nyanyian berbentuk dakyah keagamaan bukan Islam;
ii. Ucapan-ucapan yang menghina umat Islam;
iii. Ucapan-ucapan yang menghina agama Islam;
iv. Persembahan yang bertujuan mempersendakan pegangan agama masyarakat Islam.
5. Pihak penganjur dan orang ramai diminta mendapatkan pandangan pihak berkuasa agama sebelum menganjur atau menghadiri majlis perayaan orang yang bukan beragama Islam.
Sumber:
Ibnul Qayyim berkata, “Hendaklah behati-hati jangan sampai terjerumus sebagaimana orang-orang bodoh, ke dalam ucapan-ucapan yang menunjukkan redha mereka terhadap agamanya. Seperti ucapan mereka, “Semoga Allah membahagiakan kamu dengan agamamu”, atau “memberkatimu dalam agamamu”, atau berkata, “Semoga Allah memuliakanmu”.
Memberi ucapan tahni’ah kepada orang-orang kafir hal-hal yang diperbolehkan (mubah) adalah dilarang jika mengandungi makna yang menunjukkan rela kepada agama mereka. Adapun memberikan tahni’ah atas hari-hari raya mereka atau syi’ar-syi’ar mereka adalah haram hukumnya dan sangat dikhuwatirkan pelakunya jatuh kepada kekufuran. (Sheikh Dr. Soleh Bin Fauzan al-Fauzan, Kitab at-Tauhid, jil. 1 di bawah tajuk al-Wala’ wal Bara’)
Harap dapat membantu sedikit sebanyak tentang persoalan ni.Maaf,bukanlah arif sangat tentang agama tapi jangan atas kekhilafan antara kita, orang lain pandang serong terhadap kita.Segalanya bergantung pada iktikad, perbuatan dan pegangan akidah kita. Akhir sekali, bacalah artikel Ustaz Hasrizal.
Friday, December 24, 2010
Undang-Undang Syariah Yang Dibakul Sampah
Terima kasih diucapkan kepada blogger AdamHaikal sebab buat pendedahan berani tentang undang-undang 'syariah' peringkat negeri terhadap gejala nyah dan homoseksual. Rasanya dalam dunia maya ni hampir semua tau tentang video Saya Gay,Saya OK yang diterbitkan oleh Seksualiti Merdeka.
Respon sikit tentang video tu,jawapan pertama yang patut diberi ialah apabila Allah mereka tak takut, maka jadilah berani seperti tu. Memang dalam Islam,berdakwah kena secara hemah. Malah teringat kata-kata seorang ustaz semasa kuliah agama dulu, kita nak berdakwah tawan dulu hatinya.Selepa tawan barulah kita suntik sikit demi sikit apa yang nak didakwahkan.
Bukan nak kata diri ni sempurna, semua manusia ada dosa. Cuma yang bezakan, sama ada dosa besar atau dosa kecil yang kita lakukan. Persoalan video tu semua tahu dalam kategori mana dosa tersebut diletakkan.
Berikut adalah hukum syariah versi Malaysia:
Seksyen 66. Lelaki berlagak seperti perempuan.
Mana-mana orang lelaki yang memakai pakaian perempuan atau berlagak seperti perempuan di mana-mana tempat awam adalah melakukan satu kesalahan dan hendaklah apabila disabitkan dikenakan hukuman denda tidak melebihi satu ribu ringgit atau penjara selama tempoh tidak melebihi enam bulan atau kedua-duanya.
Kalau tengok dari aspek syariah versi Malaysia,memang tidak gerun.Malah undang-undang terbabit sekadar catatan atas kertas tanpa pelaksanaan.Istilah kasar, dibakul sampah.
Dari aspek syariah yang sebenarnya, hukum bagi gejala homoseksual ialah:
1. Pendapat pertama: Hukuman Mati
Para ulama yang mewakili pendapat yang pertama mengatakan bahawa hukuman buat pelaku seks sejenis adalah hukuman mati.
Sebahagian dari mereka mengatakan hukuman mati dilaksanakan dengan cara rejam, seperti merejam penzina muhshan. Sebagian ulama lainnya mengatakan dengan cara dibakar hidup-hidup. Sebagian lainnya mengatakan cukup dipenggal kepalanya dengan pedang. Sebahagian lagi mengatakan dengan cara dilempar dari tempat yang tinggi seperti gedung bertingkat atau dari atas jurang.
Dalil mereka atas kewajiban menghukum mati pelaku seks sejenis ini adalah berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW bermaksud:
Apalabila kalian mendapati ada orang yang melakukan hubungan seksual dengan cara umat nabi Luth, maka bunuh pelakunya dan objek pelakunya.(HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasai)
2. Pendapat kedua: Seperti Hukuman Penzina
Menurut sebahagian ulama lainnya, mereka harus dihukum sebagaimana pelaku zina biasa. Bila yang melakukannya orang yang belum menikah secara syar’i, maka hukumannya disebat 100 kali dan diasingkan selama satu tahun.
Namun bila sudah bernikah, maka hukumannya adalah hukum rejam sampai mati.
3. Pendapat Ketiga: Hukum Ta’zir
Para ulama ada yang berpendapat bahawa tidak ada dalil hudud yang langsung menyebutkan bahawa pelaku seks sejenis boleh dihukum seperti pelaku zina. Kerana itu, menurut pendapat ketiga, mereka dihukum dengan hukum ta’zir yang ditetapkan oleh hakim.
Misalnya disebat 99 kali atau dipenjara selama 1 tahun atau dipukul rotan dan lainnya. Pendeknya, dalam hukum ta’zir ini memang tidak ada kententuan dalam bentuk hukuman, semua diserahkan kebijaksanaan hakim.
Kalau kita bandingkan ketiga pendapat di atas, menurut As-Syaukani yang paling kuat adalah pendapat yang pertama. Di mana pelaku seks sesama jenis itu harus dihukum mati, sebagaimana telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW sendiri secara langsung.
Tiada hukuman seadil hukuman Allah. Jika ada yang menyatakan itu fitrah,kalian secara terang melawan Tuhan kerana mustahil Tuhan menjadikan hamba-hambaNya untuk berfitrah seperti itu. Tidak hairan jika Malaysia bakal musnah kerana dosa-dosa besar ini!
*p/s: bukan untuk menyisihkan mana-mana pihak.artikel ini diambil dari laman web lain. sekadar peringatan buat semua termasuk diri sendiri. (^_^)
Respon sikit tentang video tu,jawapan pertama yang patut diberi ialah apabila Allah mereka tak takut, maka jadilah berani seperti tu. Memang dalam Islam,berdakwah kena secara hemah. Malah teringat kata-kata seorang ustaz semasa kuliah agama dulu, kita nak berdakwah tawan dulu hatinya.Selepa tawan barulah kita suntik sikit demi sikit apa yang nak didakwahkan.
Bukan nak kata diri ni sempurna, semua manusia ada dosa. Cuma yang bezakan, sama ada dosa besar atau dosa kecil yang kita lakukan. Persoalan video tu semua tahu dalam kategori mana dosa tersebut diletakkan.
Berikut adalah hukum syariah versi Malaysia:
ENAKMEN 4 TAHUN 1992
ENAKMEN JENAYAH SYARIAH NEGERI SEMBILAN 1992
BAHAGIAN IV - KESALAHAN
Darihal kesalahan mengenai kehormatan diriENAKMEN JENAYAH SYARIAH NEGERI SEMBILAN 1992
BAHAGIAN IV - KESALAHAN
Seksyen 66. Lelaki berlagak seperti perempuan.
Mana-mana orang lelaki yang memakai pakaian perempuan atau berlagak seperti perempuan di mana-mana tempat awam adalah melakukan satu kesalahan dan hendaklah apabila disabitkan dikenakan hukuman denda tidak melebihi satu ribu ringgit atau penjara selama tempoh tidak melebihi enam bulan atau kedua-duanya.
ENAKMEN 9 TAHUN 1988
ENAKMEN KANUN JENAYAH SYARIAH 1988 (NEGERI KEDAH)
BAHAGIAN II - KESALAHAN-KESALAHAN
Seksyen 7. Pondan.
Mana-mana orang lelaki yang memakai pakaian perempuan dan berlagak seperti perempuan di mana-mana tempat awam adalah bersalah atas suatu kesalahan dan boleh, apabila disabitkan, dikenakan hukuman denda tidak melebihi satu ribu ringgit atau penjara selama tempoh tidak melebihi enam bulan atau kedua-duanya.ENAKMEN KANUN JENAYAH SYARIAH 1988 (NEGERI KEDAH)
BAHAGIAN II - KESALAHAN-KESALAHAN
Seksyen 7. Pondan.
ENAKMEN 2 TAHUN 1985
ENAKMEN KANUN JENAYAH SYARIAH 1985 (NEGERI KELANTAN)
BAHAGIAN II - KESALAHAN-KESALAHAN
Seksyen 7. Pondan.
Seseorang lelaki yang memakai pakaian perempuan dan berlagak seperti perempuan di mana-mana tempat awam adalah bersalah atas suatu kesalahan dan boleh, apabila disabitkan, dikenakan hukuman denda tidak melebihi satu ribu ringgit atau penjara selama tempoh tidak melebihi enam bulan atau kedua-duanya.ENAKMEN KANUN JENAYAH SYARIAH 1985 (NEGERI KELANTAN)
BAHAGIAN II - KESALAHAN-KESALAHAN
Seksyen 7. Pondan.
ENAKMEN 6 TAHUN 1991
ENAKMEN KESALAHAN SYARIAH (NEGERI MELAKA) 1991
BAHAGIAN IV - KESALAHAN-KESALAHAN LAIN
Seksyen 72. Lelaki berlagak seperti perempuan.
Seseorang lelaki yang memakai pakaian perempuan dan berlagak seperti perempuan di mana-mana tempat awam tanpa alasan yang munasabah adalah merupakan suatu kesalahan dan apabila disabitkan kesalahan boleh dikenakan hukuman denda tidak melebihi satu ribu ringgit atau dipenjara selama tempoh tidak melebihi enam bulan atau kedua-duanya sekali.ENAKMEN KESALAHAN SYARIAH (NEGERI MELAKA) 1991
BAHAGIAN IV - KESALAHAN-KESALAHAN LAIN
Seksyen 72. Lelaki berlagak seperti perempuan.
ENAKMEN 4 TAHUN 1993
ENAKMEN JENAYAH DALAM SYARAK 1991 (NEGERI PERLIS)
BAHAGIAN II - KESALAHAN-KESALAHAN
Seksyen 7. Pondan.
(1) Mana-mana orang lelaki yang berlagak seperti perempuan (tasyabbuh) di mana-mana tempat awam adalah bersalah atas suatu kesalahan dan boleh, apabila disabitkan, dikenakan hukuman denda tidak melebihi lima ribu ringgit atau penjara selama tempoh tidak melebihi tiga tahun atau kedua-duanya.ENAKMEN JENAYAH DALAM SYARAK 1991 (NEGERI PERLIS)
BAHAGIAN II - KESALAHAN-KESALAHAN
Seksyen 7. Pondan.
ENAKMEN 3 TAHUN 1995
ENAKMEN KESALAHAN JENAYAH SYARIAH 1995 (NEGERI SABAH)
BAHAGIAN IV - KESALAHAN
Seksyen 92. Lelaki berlagak seperti perempuan atau sebaliknya.
Seseorang lelaki yang memakai pakaian perempuan atau berlagak seperti perempuan atau sebaliknya di mana-mana tempat awam adalah bersalah atas suatu kesalahan dan boleh, apabila disabitkan dikenakan hukuman denda tidak melebihi satu ribu ringgit atau penjara selama tempoh tidak melebihi enam bulan atau kedua-duanya sekali. ENAKMEN KESALAHAN JENAYAH SYARIAH 1995 (NEGERI SABAH)
BAHAGIAN IV - KESALAHAN
Seksyen 92. Lelaki berlagak seperti perempuan atau sebaliknya.
Kalau tengok dari aspek syariah versi Malaysia,memang tidak gerun.Malah undang-undang terbabit sekadar catatan atas kertas tanpa pelaksanaan.Istilah kasar, dibakul sampah.
Dari aspek syariah yang sebenarnya, hukum bagi gejala homoseksual ialah:
1. Pendapat pertama: Hukuman Mati
Para ulama yang mewakili pendapat yang pertama mengatakan bahawa hukuman buat pelaku seks sejenis adalah hukuman mati.
Sebahagian dari mereka mengatakan hukuman mati dilaksanakan dengan cara rejam, seperti merejam penzina muhshan. Sebagian ulama lainnya mengatakan dengan cara dibakar hidup-hidup. Sebagian lainnya mengatakan cukup dipenggal kepalanya dengan pedang. Sebahagian lagi mengatakan dengan cara dilempar dari tempat yang tinggi seperti gedung bertingkat atau dari atas jurang.
Dalil mereka atas kewajiban menghukum mati pelaku seks sejenis ini adalah berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW bermaksud:
Apalabila kalian mendapati ada orang yang melakukan hubungan seksual dengan cara umat nabi Luth, maka bunuh pelakunya dan objek pelakunya.(HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasai)
2. Pendapat kedua: Seperti Hukuman Penzina
Menurut sebahagian ulama lainnya, mereka harus dihukum sebagaimana pelaku zina biasa. Bila yang melakukannya orang yang belum menikah secara syar’i, maka hukumannya disebat 100 kali dan diasingkan selama satu tahun.
Namun bila sudah bernikah, maka hukumannya adalah hukum rejam sampai mati.
3. Pendapat Ketiga: Hukum Ta’zir
Para ulama ada yang berpendapat bahawa tidak ada dalil hudud yang langsung menyebutkan bahawa pelaku seks sejenis boleh dihukum seperti pelaku zina. Kerana itu, menurut pendapat ketiga, mereka dihukum dengan hukum ta’zir yang ditetapkan oleh hakim.
Misalnya disebat 99 kali atau dipenjara selama 1 tahun atau dipukul rotan dan lainnya. Pendeknya, dalam hukum ta’zir ini memang tidak ada kententuan dalam bentuk hukuman, semua diserahkan kebijaksanaan hakim.
Kalau kita bandingkan ketiga pendapat di atas, menurut As-Syaukani yang paling kuat adalah pendapat yang pertama. Di mana pelaku seks sesama jenis itu harus dihukum mati, sebagaimana telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW sendiri secara langsung.
Tiada hukuman seadil hukuman Allah. Jika ada yang menyatakan itu fitrah,kalian secara terang melawan Tuhan kerana mustahil Tuhan menjadikan hamba-hambaNya untuk berfitrah seperti itu. Tidak hairan jika Malaysia bakal musnah kerana dosa-dosa besar ini!
Sunday, December 5, 2010
Doa Akhir & Awal Tahun Hijrah
DOA AKHIR TAHUN
Fadilat doa akhir tahun ialah membaca doa tersebut sebanyak 3 kali selepas Asar iaitu sebelum masuk waktu Maghrib pada hari terakhir Zulhijjah (bagi tahun 1431H,jatuh pada 6/12/2010@29 Zulhijjah 1431).Bacaan doa seperti berikut:
DOA AWAL TAHUN
Dibaca sebanyak 3 kali selepas solat Maghrib. Tarikh kalendar Islam dikira selepas waktu Maghrib.Bacaan doa seperti berikut:
![]() |
| klik untuk paparan besar |
Tuesday, November 30, 2010
Aurat Lelaki Yang Sering Diremehkan
Kalau sebelum ni, kita sering membicarakan tentang aurat wanita.Tapi kita lupa untuk memperjuangan kempen tutup aurat untuk kaum Adam. Artikel ni diambil dari FB jom tutup aurat dan jaga akhlak.
oleh: Ustaz Ahmad Baei Jaafar
Diriwayatkan oleh Abu Ayyub r.a bermaksud: Bahagian anggota yang terletak di atas dua lutut adalah termasuk aurat dan bahagian anggota yang terletak di bawah pusat adalah aurat juga.
Aurat lelaki seperti yang dinyatakan sebelum ini agak longgar kerana selain waktu bersendiri dan bersama isteri, aurat lelaki hanya antara pusat dan lutut sahaja. Maknanya kalau seseorang itu hendak melakukan solat, auratnya ialah cukup antara pusat dengan lutut, begitu juga kalau dia berada di khalayak ramai.
Berdasarkan itu, ramailah orang lelaki mengambil mudah dengan menyatakan harus kita berada dalam sesuatu majlis dengan hanya memakai seluar pendek sampai ke paras lutut. Sebab itulah barangkali kita sering melihat orang lelaki suka memakai seluar pendek ketika membasuh kereta di luar rumah.
Benar, jika mengikut hukum asal tidak salah memakai seluar pendek yang sampai ke paras lutut kerana itulah sahaja aurat bagi lelaki. Tetapi jangan lupa bahawa hukum itu perlu juga mengambil kira waktu berjalan dan duduk. Apakah ketika itu aurat lelaki tersebut masih terpelihara?
Bayangkan seorang lelaki yang hanya memakai kain sarung yang menutup pusatnya dan lutut. Solatnya sah kerana aurat bagi lelaki dalam solat ialah antara pusat dengan lutut. Tetapi bagaimana kalau dia rukuk, sujud, dan duduk antara dua sujud? Tidaklah lututnya ternampak? Sahkah solatnya ketika itu? Jawapannya ialah tidak sah.
Bagaimanapun pula kalau dia membasuh kereta dengan pakaian yang sama, sesekali dia akan tunduk juga. Adakah ketika itu tidak terbuka auratnya iaitu lutut? Kalaupun dia memakai seluar pendek yang labuh hingga ke paras lutut, waktu dia mencangkung akan ternampak lututnya. Tidak berdosakah dia ketika itu? Jawabnya tentu berdosa. Ya, kalau dalam solat tidak sah maka pada ketika waktu lain dia berdosa.
Bagi masyarakat kampung pula, mereka suka pakai kain pelakat yang digulung sampai ke paras lutut. Malah kadang-kadang ternampak pusatnya sewaktu terlondeh. Waktu berborak dengan kawan-kawan di serambi pasti tersingkap juga auratnya.
Bagaimana kalau dia melakukan solat dengan kain itu walaupun dilabuhkan di bawa lutut? Waktu rukuk dan sujud setidak-tidaknya akan ternampak pahanya oleh orang yang di belakangnya. Sahkah solatnya?
Begitu juga kalau si ayah memakai kain pelakat di dalam rumah bersama anak-anak, lalu pada waktu duduk terselak bahagian lututnya. Agaknya berdosa atau tidak ketika itu? Jawapannya sudah tentu berdosa kerana aurat ketika bersama mahram ialah antara pusat dengan lutut.
Kalau berdasarkan keterangan di atas adalah haram hukumnya, bagaimana keadaannya anak-anak muda yang suka memakai seluar pendek di dalam rumah, bersukan, main bola dan sebagainya? Seluar pendek yang dipakai mereka adalah di atas lutut, maka dalam keadaan itu dia bukan sahaja mendedahkan lututnya malah mendedahkan pahanya.
Nampaknya lelaki secara berleluasa mendedahkan aurat mereka tatkala bersukan. Apakah atas alasan bersukan aurat boleh didedahkan? Ya, kalau berhadapan dengan Allah sewaktu bersolat pun salah, betapa ketika berhadapan dengan orang ramai. Pada zaman ini, bukan sahaja orang yang dalam stadium yang melihatnya tetapi seluruh dunia melihatnya. Bayangkan berapa besar dosanya ketika itu.
Pakaian sukan tajaan Barat memang begitu. Hal ini kerana dalam teori sains, mereka yang memakai pakaian longgar dan menutup tubuh boleh melambatkan pergerakan. Tetapi teori itu ternyata tidak tepat apabila pelari pecut wanita Islam (dari Bahrain-kalau tak salah penulis) dapat mengalahkan pelari lain yang hanya sekadar memakai cawat dalam sukan bertaraf dunia baru-baru ini.
Selain itu, kalau benarlah teori itu, mengapa perlu pakaian itu diperkenalkan kepada pemain boling. Sukan itu tidak memerlukan pergerakan pantas. Barat menipu kita dan kita hanya menurut sahaja tanpa mahu membantah. Kita akur dengan peraturan itu demi sukan padahal kita belum berani berbincang secara serius untuk mohon pengecualian bagi atlet Muslim.
Bayangkan sudah berapa lama umat Islam melakukan dosa mendedahkan aurat dalam bidang sukan. Jika dalam hal ini kita sudah berdosa dengan Allah, bagaimana usaha kita untuk membentuk perpaduan melalui sukan seperti yang sering diuar-uarkan. Mahukah Allah merestuinya?
oleh: Ustaz Ahmad Baei Jaafar
Diriwayatkan oleh Abu Ayyub r.a bermaksud: Bahagian anggota yang terletak di atas dua lutut adalah termasuk aurat dan bahagian anggota yang terletak di bawah pusat adalah aurat juga.
Aurat lelaki seperti yang dinyatakan sebelum ini agak longgar kerana selain waktu bersendiri dan bersama isteri, aurat lelaki hanya antara pusat dan lutut sahaja. Maknanya kalau seseorang itu hendak melakukan solat, auratnya ialah cukup antara pusat dengan lutut, begitu juga kalau dia berada di khalayak ramai.
Berdasarkan itu, ramailah orang lelaki mengambil mudah dengan menyatakan harus kita berada dalam sesuatu majlis dengan hanya memakai seluar pendek sampai ke paras lutut. Sebab itulah barangkali kita sering melihat orang lelaki suka memakai seluar pendek ketika membasuh kereta di luar rumah.
Benar, jika mengikut hukum asal tidak salah memakai seluar pendek yang sampai ke paras lutut kerana itulah sahaja aurat bagi lelaki. Tetapi jangan lupa bahawa hukum itu perlu juga mengambil kira waktu berjalan dan duduk. Apakah ketika itu aurat lelaki tersebut masih terpelihara?
Bayangkan seorang lelaki yang hanya memakai kain sarung yang menutup pusatnya dan lutut. Solatnya sah kerana aurat bagi lelaki dalam solat ialah antara pusat dengan lutut. Tetapi bagaimana kalau dia rukuk, sujud, dan duduk antara dua sujud? Tidaklah lututnya ternampak? Sahkah solatnya ketika itu? Jawapannya ialah tidak sah.
Bagaimanapun pula kalau dia membasuh kereta dengan pakaian yang sama, sesekali dia akan tunduk juga. Adakah ketika itu tidak terbuka auratnya iaitu lutut? Kalaupun dia memakai seluar pendek yang labuh hingga ke paras lutut, waktu dia mencangkung akan ternampak lututnya. Tidak berdosakah dia ketika itu? Jawabnya tentu berdosa. Ya, kalau dalam solat tidak sah maka pada ketika waktu lain dia berdosa.
Bagi masyarakat kampung pula, mereka suka pakai kain pelakat yang digulung sampai ke paras lutut. Malah kadang-kadang ternampak pusatnya sewaktu terlondeh. Waktu berborak dengan kawan-kawan di serambi pasti tersingkap juga auratnya.
Bagaimana kalau dia melakukan solat dengan kain itu walaupun dilabuhkan di bawa lutut? Waktu rukuk dan sujud setidak-tidaknya akan ternampak pahanya oleh orang yang di belakangnya. Sahkah solatnya?
Begitu juga kalau si ayah memakai kain pelakat di dalam rumah bersama anak-anak, lalu pada waktu duduk terselak bahagian lututnya. Agaknya berdosa atau tidak ketika itu? Jawapannya sudah tentu berdosa kerana aurat ketika bersama mahram ialah antara pusat dengan lutut.
Kalau berdasarkan keterangan di atas adalah haram hukumnya, bagaimana keadaannya anak-anak muda yang suka memakai seluar pendek di dalam rumah, bersukan, main bola dan sebagainya? Seluar pendek yang dipakai mereka adalah di atas lutut, maka dalam keadaan itu dia bukan sahaja mendedahkan lututnya malah mendedahkan pahanya.
Nampaknya lelaki secara berleluasa mendedahkan aurat mereka tatkala bersukan. Apakah atas alasan bersukan aurat boleh didedahkan? Ya, kalau berhadapan dengan Allah sewaktu bersolat pun salah, betapa ketika berhadapan dengan orang ramai. Pada zaman ini, bukan sahaja orang yang dalam stadium yang melihatnya tetapi seluruh dunia melihatnya. Bayangkan berapa besar dosanya ketika itu.
Pakaian sukan tajaan Barat memang begitu. Hal ini kerana dalam teori sains, mereka yang memakai pakaian longgar dan menutup tubuh boleh melambatkan pergerakan. Tetapi teori itu ternyata tidak tepat apabila pelari pecut wanita Islam (dari Bahrain-kalau tak salah penulis) dapat mengalahkan pelari lain yang hanya sekadar memakai cawat dalam sukan bertaraf dunia baru-baru ini.
Selain itu, kalau benarlah teori itu, mengapa perlu pakaian itu diperkenalkan kepada pemain boling. Sukan itu tidak memerlukan pergerakan pantas. Barat menipu kita dan kita hanya menurut sahaja tanpa mahu membantah. Kita akur dengan peraturan itu demi sukan padahal kita belum berani berbincang secara serius untuk mohon pengecualian bagi atlet Muslim.
Bayangkan sudah berapa lama umat Islam melakukan dosa mendedahkan aurat dalam bidang sukan. Jika dalam hal ini kita sudah berdosa dengan Allah, bagaimana usaha kita untuk membentuk perpaduan melalui sukan seperti yang sering diuar-uarkan. Mahukah Allah merestuinya?
Monday, November 22, 2010
13 Aurat Muslimah Yang Wajib Dijaga
1. Bulu kening - Menurut Bukhari, Rasullulah melaknati perempuan yang mencukur atau menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu kening - Petikan dari Hadis Riwayat Abu Daud Fi Fathil Bari.
2. Kaki memakai gelang berloceng - Dan janganlah mereka (perempuan) menghentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan - Petikan dari S ura h An-Nur Ayat 31. Keterangan : Menampakkan kaki dan menghayunkan/ melenggokkan badan mengikut hentakan kaki terutamanya pada mereka yang mengikatnya dengan loceng sama juga seperti pelacur dizaman jahiliyah.
3. Wangian - Siapa sahaja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zinanya terutamanya hidung yang berserombong kapal kata orang sekarang hidong belang - Petikan dari Hadis Riwayat Nasaii, Ibn Khuzaimah dan Hibban.
4. Dada - Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi bahagian hadapan dada-dada mereka - Petikan dari S ura h An-Nur Ayat 31.
5. Gigi - Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya - Petikan dari Hadis Riwayat At-Thabrani, Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik, yang merubah ciptaan Allah - Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.
6. Muka dan leher - Dan tinggallah kamu (perempuan) di rumah kamu dan janganlah kamu menampakkan perhiasan mu seperti orang jahilliah yang dahulu. Keterangan : Bersolek (make-up) dan menurut Maqatil sengaja membiarkan ikatan tudung yang menampakkan leher seperti orang Jahilliyah.
7. Muka dan Tangan - Asma Binte Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasullulah: Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja - Petikan dari Hadis Riwayat Muslim dan Bukhari.
8. Tangan - Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya - Petikan dari Hadis Riwayat At Tabrani dan Baihaqi.
9. Mata - Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebahagian dari pemandangannya - Petikan dari S ura h An Nur Ayat 31.
Sabda Nabi Muhamad SAW, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pandangan yang pertama sahaja manakala pandangan seterusnya tidak dibenarkan hukumnya haram - Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi.
10. Mulut (suara) - Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada perasaan serong dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik - Petikan dari S ura h Al Ahzab Ayat 32.
Sabda SAW, Sesungguhnya akan ada umat ku yang minum arak yang mereka namakan dengan yang lain, iaitu kepala mereka dilalaikan oleh bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi perempuan, maka Allah akan tenggelamkan mereka itu dalam bumi - Petikan dari Hadis Riwayat Ibn Majah.
11. Kemaluan - Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka - Petikan dari S ura h An Nur Ayat 31.
Apabila seorang perempuan itu solat lima waktu, puasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka masuklah ia ke dalam Syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya - Hadis Riwayat Riwayat Al Bazzar.
Tiada seorang perempuanpun yang membuka pakaiannya bukan di rumah suaminya, melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan Allah - Petikan dari Hadis Riwayat Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah.
12. Pakaian - Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan terutama yang menjolok mata , maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat nanti - Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad, An Nasaii dan Ibn Majah.
Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 59. Bermaksud : Hai nabi-nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab (baju labuh dan longgar) yang demikian itu supaya mereka mudah diken ali Lantaran itu mereka tidak diganggu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang.
Sesungguhnya sebilangan ahli Neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk Syurga dan tidak akan mencium baunya - Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim. Keterangan : Wanita yang berpakaian tipis/jarang, ketat/ membentuk dan berbelah/membuka bahagian-bahagian tertentu.
13. Rambut - Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam Neraka adalah mereka itu di dunia tidak mahu menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya - Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.
2. Kaki memakai gelang berloceng - Dan janganlah mereka (perempuan) menghentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan - Petikan dari S ura h An-Nur Ayat 31. Keterangan : Menampakkan kaki dan menghayunkan/ melenggokkan badan mengikut hentakan kaki terutamanya pada mereka yang mengikatnya dengan loceng sama juga seperti pelacur dizaman jahiliyah.
3. Wangian - Siapa sahaja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zinanya terutamanya hidung yang berserombong kapal kata orang sekarang hidong belang - Petikan dari Hadis Riwayat Nasaii, Ibn Khuzaimah dan Hibban.
4. Dada - Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi bahagian hadapan dada-dada mereka - Petikan dari S ura h An-Nur Ayat 31.
5. Gigi - Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya - Petikan dari Hadis Riwayat At-Thabrani, Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik, yang merubah ciptaan Allah - Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.
6. Muka dan leher - Dan tinggallah kamu (perempuan) di rumah kamu dan janganlah kamu menampakkan perhiasan mu seperti orang jahilliah yang dahulu. Keterangan : Bersolek (make-up) dan menurut Maqatil sengaja membiarkan ikatan tudung yang menampakkan leher seperti orang Jahilliyah.
7. Muka dan Tangan - Asma Binte Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasullulah: Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja - Petikan dari Hadis Riwayat Muslim dan Bukhari.
8. Tangan - Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya - Petikan dari Hadis Riwayat At Tabrani dan Baihaqi.
9. Mata - Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebahagian dari pemandangannya - Petikan dari S ura h An Nur Ayat 31.
Sabda Nabi Muhamad SAW, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pandangan yang pertama sahaja manakala pandangan seterusnya tidak dibenarkan hukumnya haram - Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi.
10. Mulut (suara) - Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada perasaan serong dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik - Petikan dari S ura h Al Ahzab Ayat 32.
Sabda SAW, Sesungguhnya akan ada umat ku yang minum arak yang mereka namakan dengan yang lain, iaitu kepala mereka dilalaikan oleh bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi perempuan, maka Allah akan tenggelamkan mereka itu dalam bumi - Petikan dari Hadis Riwayat Ibn Majah.
11. Kemaluan - Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka - Petikan dari S ura h An Nur Ayat 31.
Apabila seorang perempuan itu solat lima waktu, puasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka masuklah ia ke dalam Syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya - Hadis Riwayat Riwayat Al Bazzar.
Tiada seorang perempuanpun yang membuka pakaiannya bukan di rumah suaminya, melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan Allah - Petikan dari Hadis Riwayat Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah.
12. Pakaian - Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan terutama yang menjolok mata , maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat nanti - Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad, An Nasaii dan Ibn Majah.
Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 59. Bermaksud : Hai nabi-nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab (baju labuh dan longgar) yang demikian itu supaya mereka mudah diken ali Lantaran itu mereka tidak diganggu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang.
Sesungguhnya sebilangan ahli Neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk Syurga dan tidak akan mencium baunya - Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim. Keterangan : Wanita yang berpakaian tipis/jarang, ketat/ membentuk dan berbelah/membuka bahagian-bahagian tertentu.
13. Rambut - Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam Neraka adalah mereka itu di dunia tidak mahu menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya - Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.
Sunday, November 14, 2010
Sultan Kedah Dukacita
Nafi sumbangan negeri, Sultan Kedah dukacita
Sultan Kedah Tuanku Abdul Halim Mu'adzam Shah kecewa dengan pihak yang tidak menghargai sumbangan dan pengorbanan kerajaan negeri dan semua yang terlibat membantu mangsa banjir besar baru-baru ini.
Baginda bertitah demikian ketika berkenan merasmikan Sidang Dewan Undangan Negeri (Dun) Kedah, Penggal Ketiga di Alor Star pagi tadi, lapor Harakahdaily.
"Beta merakamkan penghargaan kepada semua yang terlibat membantu mangsa banjir dan keadaan ini jelas menggambarkan semangat persaudaraan dan perpaduan yang kukuh di kalangan rakyat beta yang berbilang kaum dalam menghadapi bencana," titah Baginda lagi.
Ucapan tahniah turut dirakamkan kepada Menteri Besar Datuk Seri Azizan Abdul Razak yang berjaya menerajui kerajaan negeri secara adil, beramanah dan proaktif.
"Rakyat di negeri ini telah diberi layanan yang adil, hubungan antara kaum semakin erat melalui pelbagai aktiviti yang telah dijalankan.
"Beta dapati kerajaan negeri telah memberikan sepenuh daya usaha dan kerjasama dengan semua pihak bagi memajukan negeri ini," titah Baginda seperti dilaporkan akhbar web PAS itu.
ULASAN revolterAMI: Kepada pihak yang ditegur tu, pesanan aku mudah saja, jangan main politik tahap kelas 10. Dalam bab bencana, kita sepatutnya bersatu bukan mempolitikkan keadaan.
Jom Puasa Arafah
Puasa Arafah merupakan puasa yang ditunaikan pada hari Arafah yakni 9 Zulhijjah. Puasa ini merupakan perkara yang paling dituntut bagi mereka yang tidak menunaikan haji.
Nabi SAW bersabda tentang kelebihan Hari Arafah :
“Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hambanya lebih dari hari Arafah”
(Riwayat Muslim).
Nabi SAW juga bila ditanya tentang kelebihan berpuasa pada hari Arafah ini menjawab, ia menghapuskan dosa yang lalu dan tahun kemudiannya.
Berdasarkan beberapa hadis yang sahih, berpuasa pada hari ‘Arafah mempunyai kelebihan yang besar seperti di bawah: -
Sekadar berkongsi pengetahuan dan pembacaan dengan pembaca blogku ini. Moga kita sama-sama mendapat Rahmat dan Keberkatan dariNYA dan diampunkan segala dosa demi menambah lagi bekal akhirat sebelum bertemu ALLAH.
Nabi SAW bersabda tentang kelebihan Hari Arafah :
“Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hambanya lebih dari hari Arafah”
(Riwayat Muslim).
Nabi SAW juga bila ditanya tentang kelebihan berpuasa pada hari Arafah ini menjawab, ia menghapuskan dosa yang lalu dan tahun kemudiannya.
Kelebihan Puasa Arafah
صيام يوم عرفه احتسب على الله ان يكفّر السّنة التي قبله والسّنة التي بعده
وصيام يوم عا شوراء احتسب على الله ان يكفّرالتي قبله
Rasulullah (saw) bersabda yang maksudnya;
“Berpuasa pada hari ‘Arafah, aku berdoa agar ALLAH menghapuskan dosa bagi tahun sebelumnya dan tahun selepasnya dan berpuasa pada hari Asyura, aku berdoa agar ALLAH menghapuskan dosa tahun sebelumnya ” (HR Muslim)
Dari Qatadah bin An-Nu’man, beliau mendengar Rasulullah (saw) bersabda maksudnya;
من صام يوم عفرالله له سنتين, سنة امامه وسنة خلفه
Marilah kita merebut peluang ini kerana sebagai insan tentunya kita banyak melakukan dosa sama ada yang kita sedari mahu pun tidak disedari.“Sesiapa yang berpuasa pada hari ‘Arafah, nescaya ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya selama dua tahun, setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (Dinilai sahih – Ibn Maajah, Shahih Al-Jaami’ Ash-Shagiir”)
Sekadar berkongsi pengetahuan dan pembacaan dengan pembaca blogku ini. Moga kita sama-sama mendapat Rahmat dan Keberkatan dariNYA dan diampunkan segala dosa demi menambah lagi bekal akhirat sebelum bertemu ALLAH.
Friday, November 5, 2010
Azab Untuk Wanita
Sayidina Ali ra menceritakan suatu ketika melihat Rasulullah saw menangis manakala ia datang bersama Fatimah.Lalu keduanya bertanya mengapa Rasulullah saw menangis. Beliau menjawab,"Pada malam aku di-isra'- kan , aku melihat perempuan-perempuan yang sedang diseksa dengan berbagai seksaan.Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Kerana, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan seksanya
Putri Rasulullah saw kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. "Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.
Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.
Aku lihat perempuan tergantung kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.
Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri.
Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.
Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar,beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan pentung dari api neraka,"kata Nabi saw.
Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka diseksa seperti itu?
1) Rasulullah menjawab, "Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya.
2)Perempuan yang digantung susunya adalah isteri yang 'mengotori' tempat tidurnya.
3)Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.
4)Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah kerana ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.
5)Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka kerana ia memperkenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.
6)Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya kerana ia boleh solat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub.
7)Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami."Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis.
sumber dari email
Subscribe to:
Posts (Atom)











